For what i feel, what i see, what i hear, what i dream of, what i used to be, what i would be. Here i am. Just take a deep breath, then read!

Showing posts with label MBUI. Show all posts
Showing posts with label MBUI. Show all posts

Wednesday, July 03, 2013

Time changes, existence shows

Udah lama. Udah lama banget rasanya gak pernah ngembe. Biasanya setiap hari selalu pulang malam, bahkan larut, atau bahkan gak beranjak dari pusgiwa karena kegiatan satu itu. Bukan berarti sekarang gak pernah pulang malam lagi, tetep aja begitu, baru beranjak dari kantor gak pernah lebih cepat dari jam 8 malam, kecuali kalau jadwal latihan choir di gereja. 
Sebenernya apa sih yang dikangenin dari MB? Kalau alasannya bermusik, mungkin gak cukup akurat, karena toh sampai sekarang gue tetep bermusik kok, entah itu di gereja ataupun di kalangan anak-anak kantor. Mungkin feel nya. 
Semalam abis mantengin timeline twitter, dan disana banyak banget curahan hati 140 karakter dari anak-anak MB. Ucapan semangat TC dan hal-hal lainnya bikin senyum-senyum sendiri dan diam-diam dalam hati jadi kangen saat-saat berada di posisi mereka. Yang itu rapat gak kelar-kelar, yang itu debat sana-sini, yang itu nentuin target sana-sini, yang itu hubungin bintang tamu, yang booking gedung, yang segala macem. Hihihi, time changes, existence shows. Keren yah MBUI.
Sebenernya mau sekalian permintaan maaf juga sih ini, karena dari kepengurusan periode ini, hampir gak pernah mengujungi latihan. Bisa dibilang, gak tau running nya kayak apa, kualitas pasukan kayak apa, kualitas musiknya bagaimana, dan sebagainya. Cuma denger report dari beberapa pihak tentang progres proyek.

Sukses ya kalian. Sukses untuk Madah Bahana in Concert 2 nya. Kerjamu, kerjaku, kerja kita pasti akan berhasil dan mendulang sukses kayak Simfoni Kenangan Sebuah Perjalanan.

Peluk hangat dari saya disini, iringan doa saya semoga selalu menemani kalian. Tidak akan ada yang sia-sia, karena kalian ngelakuinnya dengan sungguh-sungguh. Tetap semangat, tetap percaya diri, dan lebih banci tampil.


We gotta go..

We gotta fight..

We gotta win..


YEAHHH!!!




gak pernah gak amazed sama unit ini! You'll make it!
Read More

Wednesday, July 25, 2012

Brass Warming-Up

Reposted from : Marko S Hermawan

Biasanya pemanasan dimulai dari nada panjang skala do, berdurasi 4 sampai 8 ketuk setiap nadanya, dilanjutkan staccato skala do, dan lip slur. Mari kita telaah satu per satu pemanasan tersebut.

Long tones
Disebut juga nada panjang. Nada panjang bukan saja berarti pencapaian nada harus sesuai dengan ketukan yang dituju (4 atau 8 ketuk), namun juga pengaturan nafas yang sedemikian rupa sehingga kualitas dan intensitas suara merata sepanjang ketukan itu. Kebiasaan yang terjadi di beberapa brass section adalah, ketika nada pertama ‘do’ dibunyikan, maka tidak semua alat membunyikan secara serentak, terkadang ½ ketuk setelah dimulai, dan bahkan nadanya juga bukan nada ‘do’. Mengapa demikian? Ada 2 teknik yang perlu diperhatikan:


A. JANGANLAH MULAI DENGAN MENIUP NADA ‘DO’.



Kondisi paru-paru, tenggorokan, diafragma, dan bibir belum fleksibel untuk memulai meniup. Lakukan pemanasan nafas terlebih dahulu. John Ericson (2002) mempunyai tips yang cukup efektif dalam melatih pernafasan. Dia mengatakan kemampuan diafragma untuk menampung udara hanya 75% saja, dan untuk memaksimalkannya membutuhkan latihan otot diafragma dan otot-otot disekitar tulang iga untuk berkembang.

Teknik latihan (gunakan metronome):
- Tarik nafas 4 ketuk
- Tahan nafas 4 ketuk
- Buang nafas 4 ketuk
- Istirahat 4 ketuk
- Mulai lagi dengan tarik nafas, begitu seterusnya
- Lanjut ke 6 dan 8 ketuk masing-masing

Dr. Bradley Ulrich dalam buku “Building a Better Trumpet Section” (2001) dari Jupiter Music menambah latihan nafas menjadi:
- Exercise No. 1
- 4 ambil nafas, 4 buang nafas (ulangi)
- 2 ambil nafas, 2 buang nafas (ulangi)
- 1 ambil nafas, 1 buang nafas (ulangi)
- rest
- Exercise No 2
- 4 ambil nafas, 4 buang nafas (crescendo saat buang nafas)
- 4 ambil nafas, 8 buang nafas (crescendo saat buang nafas)
- 4 ambil nafas, 12 buang nafas (crescendo saat buang nafas)
- rest
- 2 ambil nafas, 4 buang nafas (crescendo saat buang nafas)
- 2 ambil nafas, 8 buang nafas (crescendo saat buang nafas)
- 2 ambil nafas, 12 buang nafas (crescendo saat buang nafas)
- rest
- 1 ambil nafas, 4 buang nafas (crescendo saat buang nafas)
- 1 ambil nafas, 8 buang nafas (crescendo saat buang nafas)
- 1 ambil nafas, 12 buang nafas (crescendo saat buang nafas)

Fokus perhatian:


  • Perhatikan postur tubuh, jangan biarkan bahu pemain terangkat saat mengambil nafas. Ini berarti dia masih menggunakan nafas ‘paru-paru’.
  • Dalam keadaan berdiri tegap, suruh tiap pemain memegang perut. Saat mengambil nafas, rasakan perut mereka kembang/kempis.
  • Pada saat mengeluarkan nafas, jangan biarkan leher dan bibir tegang, agar jalur udara benar-benar keluar seutuhnya dari paru-paru.
Filosofi latihan:
  • Terangkan kepada mereka, dengan latihan sepertinya ini akan terbiasa menggunakan nafas ‘perut’ dalam meniup, ketimbang nafas ‘paru-paru’. Dan tenaga untuk meniup semakin kuat.
  • Atur nafas agar semakin panjang nafas yang dikeluarkan, kekuatan atau intensitas nafas sama sepanjang ketukan.

B. JANGANLAH MULAI DENGAN MENIUP NADA ‘DO’ LAGI.

Loh, jadi kapan kita bisa mulai meniup ‘do’? Ada suatu ketika dimana saat pemain meniup ‘do’, suara yang ditimbulkan adalah ‘twa-twa’ (Ericson, 2002) – atau nafas dulu yang keluar sebelum nada. Maka efek yang ditimbulkan adalah setiap ketukan 1, suara tidak timbul secara serentak. Dr Bradley Urich (2001) menyebutkan alasannya antara lain:
  • Nafas yang dipakai pemain kurang mencukupi ke dalam alat.
  • Posisi gigi terlalu rapat, jarak yang ideal adalah sama dengan menggigit kuku anda
  • Bibir terlalu tegang. RELAX!
Teknik latihan:
  1. Bila suara ‘twa’ timbul di nada ‘do’, jangan lanjut ke nada ‘re’. Ulangi lagi nada ‘do’ 4 ketuk, sampai semuanya tidak ada kesan ‘twa’ saat meniup.
  2. Lakukan teknik ‘baps’ (Ericson, 2002), dimana pemain akan bermain nada pendek dulu, seperti aksen, kemudian baru diikuti nada panjang. (DO’…… Dooooooo)
Fokus perhatian:
  • Terkadang saya menggunakan artikulasi ‘Ta’ setiap tiupan pertama, agar ketukan setiap pemain sama, namun sebisa mungkin jangan ada unsur ‘aksen’ dalam nada itu.
  • Tambah nafas perut lagi agar, suara ‘twa’ tidak timbul
Filosofi latihan:
  • Terangkan kepada mereka, suara ‘twa’ akan merusak ketukan pertama, lagu, dan kejernihan suara. Ubah suara ini sedini mungkin sejak latihan pemanasan.
Kesimpulan
Beberapa hal yang harus diperhatikan selama latihan pemanasan bagi seorang pelatih adalah:
  1. Ubah persepsi ‘ritual formal’ yang membosankan menjadi suatu latihan detail yang berpengaruh pada aplikasi lagu.
  2. Temani atau ikuti perkembangan pemanasan. Jangan tinggalkan field commander saat mereka sedang pemanasan. Justru saat ini dipergunakan pelatih untuk membenarkan detail bermain setiap pemain.
  3. Jangan biasakan meniup skala ‘do’ sampai habis saat pemain mulai kehilangan konsentrasi, dalam arti ‘twa’ semakin banyak, pemain melirit kanan kiri, posisi hornline yang semakin tidak terarah. Berhenti saat itu juga dan ulangi skala ‘do’ lagi, sampai semuanya bisa fokus.
So, ini baru bagian pertama dalam sebuah pemanasan awal, dan masih banyak hal yang bisa membuat pemanasan ini terasa ‘indah’.



Yuk, bikin kurva, kita pemanasan!















Reference:
Ericson, John Q, Associate Professor of horn at Arizona State University, Notes on Breathing and Use of Air, issue of the Texas Bandmasters Association Journal, June, 2002
Ulrich, Bradley P, Professor of Music, has taught trumpet at Western Carolina University since 1989, Building a Better Trumpet Section, Jupiter Education Services, 2001
Read More

Monday, June 25, 2012

Hypocrite? Opportunist?

Kyaaaawww..

Dia bilang hypocrite? Uhm.. Tinggal liat waktu yang bakal jawab. Siapa hypocrite, siapa oportunist.

Aduh, becanda sih, tapi kok bisa-bisanya sih gue masukin hati. Gara-gara bocah-bocah itu, dia jadi salah paham. Ini siapa ngedeketin siapa, siapa ngejilat siapa, siapa pula yang disalahin.

Gapapa deh, asal mereka senang, gue jadi korban, sesekali. Toh, dia tahu pasti, gue tetap disini.
Read More

Tuesday, May 08, 2012

Weekend kemarin, Hoki, Pusgiwa

Sabtu di malam Minggu.

Sore itu hujan deres banget, awalnya memang cuma rerintikan. Namun makin hebat, dan hup! kencang sekali anginnya, deras sekali air ini jatuh. Disaat mereka sedang semangat latihan di hoki. Di lapangan hijau itu, semua tampak sibuk. Memikirkan bagaimana caranya melindungi alat-alat mereka, bagaimana caranya agar tetap bisa latihan. Gue dan si botak pun gak kalah sibuknya. Nyodok air sana sini biar tenda gak kebanjiran. Gulung terpal yang di tengah lapangan sambil ujan-ujanan. Loading alat sana-sini dalam kondisi ujan. Ya ampun, seru. Dua jam itu tangan dan mata kami selalu awas. Akhirnya, anak-anak pindah tempat latihan. Dan, gue pun hujan-hujanan. Bandel amat emang gue, orang lagi sakit juga. Tapi ya tapiii, kalau di luar itu sakit gue hilang, karena ketemu temen-temen, beraktivitas. Tapi kalau badan ini didiemin di kamar, sakitnya gak sembuh-sembuih, hahaha. Oke, lanjut!

Gue kekuyupan. Si botak juga sih, tapi dia pake mantelnya si-pecinta-doraemon. Curang emang. Yang lain yang senasib kayak gue ada si-tukang-ngupil, ucrut, bli-item-yang-wataknya-sama-kayak-gue. Aduh, pengorbanan emang ya, awas kalau gak menang.. :D . Yang sedikit disesalkan adalah, harusnya ada yang bisa mengabadikan detik-detik tersebut, biar bisa dimasukin ke video akhir, hehehe.

Malemnya, si botak masuk ke pasukan menginfokan 3 poin penting terkait perlombaan. Fyuuuh~ gue mengelus dada melihat respon anak-anak setelahnya. Kejadian hari itu, ditambah info yang barusan disampein emang bikin feeling jadi dobel. Gue pribadi sebenernya udah bisa memprediksi respon itu, toh ini bukan pertama kalinya gue menerima respons itu. Stelah sebelumnya perubahan project officer, disusul dengan perubahan tanggal konser, lalu muncul ini. Sudah paham betul bagaimana nantinya anak-anak ini menanggapinya. :)

Malamnya, terjadilah grasuk-grusuk di grup bbm. Update-an sana-sini dari rangers yang lain, semuanya cuma bikin gue senyum. Tenanglah sedikit, kawan. Api dikasih api, bukan malah reda, justru kebakaran nanti. Waktu itu gue bilang, memang ada yang salah dari cara penyampaiannya. We all human, right?! Tidak bisa sepenuhnya benar.

Setelah itu, keesokan harinya, dengan segala rangkaian kata yang udah disusun plus editing sana-sini, akhirnya si botak ini masuk lagi untuk klarifikasi info yang kemarin. Dia yang ngomong, gue yang gugup. Hahaha. Pelukan erat yang terjadi sesudahnya, adalah makna dari gugupnya gue dan dia saat itu.

Apapun yang terjadi setelahnya, gue berharap kalian bisa mengerti. Karena, bukan cuma kalian, tapi kami pun sama-sama kerja keras untuk hal ini. Tolonglah, jangan pernah merasa kalian dipermainkan karena hal ini. Bukan itu maksud kami. Kalian, pun kami, pasti sama-sama ingin melakukan dan menjadi yang terbaik, kan?

Berpikir negatif sesekali (mungkin) perlu, tapi setelahnya, yuk kita bangun pribadi yang lebih positif dari sebelumnya. Mau, kan? :)

Read More
Written by tvelofas. Powered by Blogger.

© Je Suis Moi ♥♥, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena