For what i feel, what i see, what i hear, what i dream of, what i used to be, what i would be. Here i am. Just take a deep breath, then read!

Showing posts with label TRAVELLING. Show all posts
Showing posts with label TRAVELLING. Show all posts

Saturday, June 06, 2015

Rutinitas mengubah rutinitas

Hampir semua orang di belahan dunia ini pasti memiliki aktivitas yang dilakukan berulang dalam jangka waktu teratur. Misalnya, bangun di jam 5 subuh, atau ngopi sambil baca koran sebelum beraktivitas, tidur sebelum jam 11 malam, atau hal lainnya yang memang kita lakukan di hampir setiap harinya. Hal tersebut, atau mungkin hal-hal kecil lain yang kita lakukan secara berulang bahka secara autopilot hampir bekerja dibawah alam sadar kita, telah mendesain (atau didesain?) sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah rutinitas dalam keseharian kita. Masih segar dalam ingatan saya bagaimana dulu ayah saya mendidik saya untuk bisa bersikap disiplin, salah satunya dengan mengajak saya menyusun seluruh agenda saya dan menerapkannya seketat mungkin. Beliau meminta saya untuk membuat sendiri jadwal saya setiap harinya mulai pukul 00.00-24.00, dan mewajibkan saya menaati jadwal itu sedisiplin mungkin. Disitu saya berpikir kenapa tidak beliau buatkan saja sendiri, lalu saya tinggal menjalankannya? Bukankah lebih mudah untuk memerintahkan saya melakukan hal tersebut?

But hey, the easy way isn't always the better way. Saya sadar, beliau sedang membantu saya membangun rutinitas saya sendiri. Beliau tidak pernah secara langsung menyuruh saya untuk selalu bangun jam 5 pagi, atau tidur siang di pukul 2, atau bermain di pukul 4, bahkan tidak pernah menyuruh saya untuk belajar sebegitu giatnya berjam-jam tiap harinya. Saya sendirilah yang membangun agenda itu. Bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat sekolah, tidur siang, main, nonton tv, belajar, sampai tidur lagi. Itulah pola hidup saya, pada saat itu. tetapi saya diajar untuk menjadi kreatif dan fleksibel, dengan memasukkan sejumlah kelas kursus dalam agenda saya. 

Apakah sekarang masih sama? Ya tentunya tidak dong. Apa yang menjadi rutinitas kita di 1 atau 3 atau 10 tahun yang lalu, hampir dapat dipastikan tidak akan sama dengan saat ini. 

The rhythm you make keeps you balance. But as the life's spinning, you are required to move.
Kalau dulu hidup sesimpel itu, maka tidak untuk sekarang. Bertambahnya keinginan dan pengetahuan, membuat perbendaharaan aktivitas kita semakin beragam. Dulu waktu masih berseragam sekolah, kegitan saya tidak jauh dari belajar, bermain, ekstrakurikuler, les dan kompetisi. Itu saja terus berulang. Tetapi ketika memasuki bangku perkuliahan, dimana kebebasan adalah mutlak adanya, tidak ada lagi kewajiban menyiapkan setelan pakaian seragam setiap harinya, rutinitas saya sedikit berubah. Mengumpulkan stok pakaian untuk bisa dipadu-padankan saat ke kampus, kerja kelompok, rapat berjam-jam bersama BEM dan/atau UKM adalah hal yang menjadi sangat biasa saya alami. My life changed, I once think. No more playing games, no more rest-taking at noon. Dan hari ini, semua rutinitas itu sudah hampir tidak pernah saya lakukan. Bertambahnya usia menjadikan rutinitas saya hari ini menjadi bertambah (sangat) ekstrim. Olahraga, naik gunung, traveling, adalah agenda saya di tengah-tengah pekerjaan kantor yang membludak. Pada fase ini, cara paradigma saya berubah. I am not changing, I am moving. Saya tetaplah saya, meskipun aktivitas yang saya lakukan berubah ragamnya.

"Lagi sibuk apa nih sekarang?", adalah pertanyaan yang paling umum dilontaran pada percakapan dua orang (atau lebih) apabila sudah lama tidak bertemu. Apapun jawaban dari pertanyaan tersebut pasti akan membentuk opini mereka tentang kita. Rutinitas telah mendeskripsikan kita, secara tidak langsung.

"Lagi sibuk olahraga nih, sama jalan-jalan cari bahan tulisan"

"Ooh, udah gak fokus di musik lagi? I see. Pantesan sekarang hobi banget kemana-mana, mulai diving sampe naik gunung."

Jelas sekali rutinitas telah mengubah rutinitas. Routinity is identity, 
Rutinitas sangat dipengaruhi dari lingkungan dimana seseorang itu berkembang. Tetapi sebagaimanapun rutinitas berubah, bagian yang sulit itu adalah menjadi disiplin strict-to-agenda. Rutinitas yang baik adalah yang terjadwal, bukan hanya yang datang tiba-tiba. Karena rutinitas itu adalah bagian dari bentuk aktualisasi diri, jadi sebaiknya apapun kegiatannya, tetap dijadwalkan seberkala mungkin, agar hidup kita menjadi lebih optimal. 


Read More

Tuesday, May 21, 2013

PHS (Post Holiday Syndrome)

Saya pikir-pikir, traveling itu paling menyenangkan adalah justru pada saat sebelum berangkat. Rasanya asik banget gitu merencanakan ini itu, mulai dari mau ke mana, menginap di mana, beli tiket, urus visa, dll. Browsing pun makin seru, mulai dari baca tips di forum, baca situs pariwisata, lihat gambar hostel, dsb. Makin mendekati Hari-H makin semangat, sampe-sampe semalam sebelumnya saya nggak bisa tidur! Kenapa bukan pas traveling? Yah, pas jalan-jalan sih enak juga, tapi tidak se-excited sebelum berangkat. Capek adalah faktor yang terutama sih. Apalagi kalau ke suatu tempat yang luas dan sulit berkomunikasi karena kendala bahasa, rasanya jadi capek fisik dan mental.
Tapi biar bagaimanapun juga, paling parah adalah sehabis pulang liburan. Apalagi kalau liburannya lebih dari dua minggu. Rasanya tambah males kerja. Beberapa hari sebelum liburan berakhir, udah mulai mikir, “Anjrit, masuk kantor lagi deh!”. Dalam perjalan pulang, tambah males mikirin si bos yang bakal ngasih seabrek-abrek kerjaan yang udah ditinggalin, bayangin meeting ini program itu, bayangin kolega yang biang gosip,  bayangin macetnya jalan ke kantor, dll dsb. Dan puncaknya adalah pagi hari di saat hari pertama kembali ke kantor. Ya ampyun, mau bangun aja maleessss banget!
Post-holiday syndrome adalah sindrom yang terjadi setelah liburan berupa perasaan tidak nyaman karena sulit beradaptasi kembali terhadap pekerjaan atau rutinitas. Hal itu wajar aja sih dan bukanlah suatu penyakit. Biasanya cuma terjadi maksimum seminggu pertama. Karena kita udah terbiasa relaks selama liburan sehingga kembali ke tantangan bekerja membuat sistem tubuh kita jadi mengalami shock. Kedengerannya serem, tapi itulah yang terjadi. Ciri-ciri fisiknya: capek, pegel, pusing, rasa ngantuk yang amat sangat, napsu makan berkurang, dan susah konsentrasi. Ciri-ciri mentalnya: jadi cuek, bego, sedih (karena ninggalin so much fun), dan rasa cemas (anjrit, duit gue abis! Kudu kerja rodi lagi deh!). Secara hati dan pikiran masih di tempat liburan, tapi badan terperangkap di kantor!
Tidak semua orang kena sindrom ini. Setiap orang pun efeknya berbeda. Saya pribadi sih selain ciri-ciri di atas, punya tambahan ciri tersendiri, yaitu jadi pelupa. Mulai dari terlambat ngantor karena ketinggalan ini itu di rumah. Sampai di kantor, lupa password komputer, email, telepon. Begitu mau ambil duit, lupa PIN ATM! Arrgh! Terus saya juga lupa dengan tanggal, hari, jam – padahal harus bikin janji meeting lagi. Parahnya, lupa pula nama-nama orang yang harus dihubungi sehingga nyari di email pun susah payah. Mau telepon orang dengan cara melihat contacts di hape pun lupa. Si itu namanya siapa, perusahaannya apa ya? Haduh!

Makanya, sebaiknya kembali 1-2 hari sebelum masuk kantor. Maksudnya untuk ‘balas dendam’ dengan tidur yang banyak dan makan makanan rumah yang enak. Karena tubuh kita perlu adaptasi. Apalagi pergi ke tempat yang berbeda zona waktu sehingga mengalami jet lag. Kalau masih suka pulang mepet, 2 hari terakhir di tempat liburan dibikin slow. Aktivitas yang bikin capek dikurangi, isinya cuman leyeh-leyeh doang.

Next, sebelum pergi liburan, buatlah daftar pekerjaan yang harus di-follow up beserta kontaknya. Dengan demikian, begitu masuk kantor lagi tidak terlalu ribet untuk memulainya.

Then, ubah mindset. Relakan kenikmatan liburan berlalu. Mulai lah fokus pada pekerjaan dengan menanamkan di kepala “harus giat bekerja supaya bisa jalan-jalan lagi”.

Beberes. Kita akan tambah bete kalo di sekeliling kita berantakan. File-file di meja bertumpuk, baju-baju belum dicuci, billing yang belum dibayar. Makanya buruan beberes. Kalau perlu, rubah dekorasi meja kantor atau pindahkan furnitur di kamar.

Kalau masih gak ampuh juga, ganti kerjaan aja kali ye? Eits, jangan dianggap enteng. Kalau kita rasanya udah males banget sama kerjaan sekarang, pikirin bener-bener deh. Apakah saya happy dengan kerjaan ini? Apakah sesuai dengan minat dan bakat kita? Apakah bayarannya sesuai? Kalau jawabannya tidak, segera putar otak untuk cari kerjaan baru.

Kalau saya sih caranya gampang, rencanain aja lagi next holiday trip. Nah, mood jadi bahagia lagi deh! Kamu gimana?
Read More

Friday, May 17, 2013

Travelling teaches us lot!

"Hey, Mister. How are you? Can we take picture?"

Yeah, that's a common thing you find from Jakartans when they meet foreigners. Some do that, some not. When I'm with my friends at Kota Tua last night (I use last night because the date has already changed, though it happened just few hours ago hehe), so many people calling at him, asking him for something, and bla bla bla.

"Why do they call me 'mister'? Also in Bali, they used to call me 'boss'? They're not working for me, but they call me their boss", once my friend asked me. A funny question. Hahaha.

Ya, this is Indonesia, where people are mostly nice, especially for foreigners. Some of them still taking a look at them, smiling at them. Most of Indonesian are easy-smiling, most of my bule-friends says so. They speaks English better than Thailand, Vietnam, and Cambodia do.

I have just already met my friend few hours ago. He is Canadian, named Maxime Brunelle, who is having round-the-world trip for almost 5 months. Once he's at Vietnam, he find it hard talking to locals. They are not used to speak English well, and also easy to get angry. It also happened in Thailand.

Well, for me, I find it as essence of travelling itself. Travelling teaches us how to deal with people, how to interact with the new one. The way we adapt oursleves among the new situation strengthen us during travelling. The inconviniences things we have during trip sometimes cannot lessen the great moments we feel. 

Travelling allows us to freely analize the trend of the country we visit. Sometimes these are lessons that you can't find from any text books. I do believe this : Sometimes it's not about the destination. It is about how we face the time amazingly.

Every traveller has their own way. When travelling, some of them prefer staying at the hostel, while others choose to doing something challenging outside the room, like bungee jumping or etc. Some are looking for culinary, others going to museums. Feel free of doing everything. Yes, that's the key of travelling, being independent.
Read More

Tuesday, April 30, 2013

LessonLearned

IT IS NOT ABOUT THE DESTINATION, IT IS ABOUT HOW TO FACE THE TIME AMAZINGLY!!
Read More

Tuesday, April 23, 2013

Teaser

To Boon Keng, from Dhoby Ghaut. It was so amazing, the memories we've got.

Next to Chung King Mansions, there is a mall. I don't want to mention, i miss you all.


  
:")






#rhyme

 
Read More

Tuesday, March 12, 2013

Missing waves ; Escapism







And, when sun almost sets, they still happy doing their things. Lying on white sands, enjoying the waves, talking with others, building a sand-castle, sharing love. Me? I just found myself here on another earth, miles away from my home.. Reaching another home called peace, i feel the warmth. What an escape!


Turnamen Foto Perjalanan 16 : Escapism


Read More

Wednesday, January 09, 2013

mau kemana juga, nyarinya pantai!

Rasanya campur aduk, dan itu dialami di beberapa hari belakangan ini. Gabisa ya hari ini seneng aja, terus besok gusar aja, terus besoknya lagi sedih aja. Lah ini, pagi santai, selalu santai perasaannya, cenderung riang, dan tak ada beban. Nyampe kantor, baru duduk, ribuan pikiran udah mulai berebut masuk ke otak, puyeng sendiri jadinya. Beneran puyeng. Agak siangan dikit, deg-degan, agak gelisah, kayak orang ada di persimpangan jalan mau nyebrang, tapi kendaraan lagi rame banget. Nah, bingung kan gimana cara nyebrangnya? Gue gitu.
Sore, selalu bersemangat. Giat. Ngerjain ini-itu satu persatu, sambil berenang, minum teh manis anget, terus makan pisang goreng. Gak nyambung, haha. Ya intinya, sore itu, gue produktif banget otaknya, kalo raganya sih udah dari pagi produktif nya. Nah, tapi kaan yaaaa, mana cukup semua dikerjain di sore ini. Kenapa juga otak ini baru bisa optimal di sore hari? Kenapa dari pagi sampe siang gue cuma nunggu kegusaran gue selesai? Buang-buang waktu kan? Ngerepotin diri sendiri juga ujung-ujungnya. Apalagi kalo itu berjalan tiap hari di minggu-minggu ini. :'(

Apasih yang gue pikirin? Banyak. Saking banyaknya, gue jadi bingung mau mikirin yang mana dulu, mau ngerjain yang mana dulu. Yang terjadi malah, gue mikirin apa, gue ngerjain apa. Giliran kerjaan gue udah selesai, realisasi pikiran gue malah belum terwujud sama sekali. Giliran, pikiran gue udah selesai dan tinggal wujudin dalam aksi, raga gue yang udah gak sanggup, ngerengek-rengek minta di sleep. Well, ini ribet yah ceritanya hahaha.

Ya intinya, gue pengen liburan. Sori, bukan liburan, tapi istirahat sejenak. Bukan buat istirahatin raga gue, tapi otak gue. Dan, solusinya cuma satu.... pantai! Hhahhahaha...
Istirahatin badan mah gampang buat gue, tinggal tidur, beres. Istirahatin otak? Buat gue, the very best way untuk istirahatin otak adalah ke pantai. Udah, titik. Cuma itu, gak ada lagi. Bayangin, di pantai, otak gue gak perlu bekerja optimal. Cukup kayak orang bego, atau bertingkah seperti anak kecil aja, selesai. Gak perlu mikirin rekon pajak udah selesai apa belum, gak perlu mikirin mau makan apa, hari ini pake baju apa, naik angkot apa supaya bisa ngehindarin macet, dsb. Gak perlu ribut-ribut, gak enak, sakit hati, dan atau semacamnya karena ulah temen kantor, temen kuliah, adek, abang, pacar (emang punya?), atau bahkan diri gue sendiri. Di pantai itu, kerjaannya cuma satu : leyeh-leyeh!

Gak perlu mikir harus pake baju apa, karena telanjang pun jadi.
Gak perlu bingung mau minum apa, karena air putih aja udah cukup.
Gak perlu apa-apa deh pokoknya.

Menurut gue, cara yang paling enak buat nikmatin pantai itu cuma satu : jangan pergi sendiri. Kenapa? Karena segala pandangan yang lo liat terhampar di depan lo itu terlalu indah buat lo nikmatin sendiri. Dalam hal ini, gak mesti lo pergi dengan teman-teman lo atau siapapun, karena sendiri pun jadi. Toh, disana lo akan jadi stranger, meet new people, interact with them, find new friends, share with them about how cool the weather is, how clean the water is, how big the wave is, or anything that simply make you feel lucky!

Gue pernah nonton Flirting With 40, disitu Kyle, seorang instruktur surfing di Hawaii, menolak diajak pacarnya untuk pindah ke New York, karena menurut dia, living with the beach is so relaxing, and this is the best way to enjoy life. I don't want to move to city, and spending my entire life for busy rhings, crowded, traffic, and glamorous. It's so sad to know that much people enjoy living like that.

Nah, sampe disini, gue mikir gue pengen jadi pacarnya Kyle, just because we have same opinion about how to enjoy life. Tapi ya tappiiiiiii, ini kan udah kodrat gue, dilahirkan di Kota Metropolitan kayak Jakarta. Kalopun boleh milih, setelah fase hidup under-25 ini, gue pengen pindahin sekeluarga gue, untuk tinggal di Lombok, atau Phuket, atau Raja Ampat, atau Hawaii, atau mungkin Maldives. Hahhahaa. Ya, just because there are so many beaches there.

Kalo dipikir-pikir, postingan ini kayak postingan latahan dari postingannya Della. Ya emang, seharian ini gue mikir gue pengen banget ke Hawaii, dan ketemu di Kyle itu. Tapi, berhubung itu sangat gak mungkin, jadilah tadi gue cukup mengkondisikan jiwa gue disana. Idiiiiiih, deburan ombaknya gak nyantai.

Terakhir ke pantai itu, kemarin sebelum tahun baru, persis di tanggal 31 Desember 2012. ya, disitu gue emang mengganggap this-is-my-new-year sih. Waktu itu, sekalian acara kejut-kejutan untuk ulang tahun Galih. Random, pas tengah malam mau ke tempat Galih, kita memutuskan untuk cus ke Anyer, kan deket tuh. Sampailah kita disana jam 3 pagi. 

Wiiiih, gelapnya. Di depan langsung laut, bibir pantainya gak ada. Dan kita harus nunggu sampai subuh, untuk aman cebar-cebur. Jadilaaah, gue dan Aji kegirangan dan gak sabaran untuk basah-basahan di pagi itu. Setelah nyeburin Galih, gue sama Aji kompak untuk nyebur juga, dengan menanggalkan jins kita. Emang bawa baju? Enggak. Hehehe, ya gapapa basah-basahan. Kapaan lagi? Nemu pantai di Jakarta susah, yang deket cuma Ancol, dan kondisinya.... ya taulah yaa.

Then, it was fun!


So, where next?







missing the waves,
tvs.
Read More

Tuesday, July 24, 2012

Koh Phi-Phi Island Photostory (2/2)


Nah, inilah disini. Koh Phi Phi National Park. Sebelum menjelajah lebih dalam ke Taman Nasional ini, ada baiknya kita berenang dulu. Yuhuuuu~


Lihat! Menghitam lah saya dan teman-teman. Tak apaaa, yang penting semua senaaang.

tanpa pelampung, ditengah ombak, si Aji masih bisa motretin, kami masih sempet gaya. mameen~

Setelah puas berenang-renang di Maya Bay. Kita mengitari Taman Nasional Phi-Phi. Sayang, banyak foto-foto yang damaged. Jadi, gagal posted. Juga beberapa video kami selama disana. :(
Oke. Lupakan. Setelah ini, kami sekapal langsung cus ke Monkey Island. Yap, disini banyak banget monyet-monyet. Kebanyakan dari mereka, liar. Gue sendiri pun sebenernya gak begitu tertarik sama Monkey Islands ini, isinya monyet semuaaa. Tapi, eh, tapiii.. Disini tebingnya bagus-bagus loh. Karena si monyet-monyet ini hidupnya di tebing, makanya tebing-tebingnya tinggi, dan shaping nya bagus.








Pulang dari sini.. Kita langsung makan siang di Phi-Phi Island. Cus!
Makan siang ini emang bagian dari rangkaian tour Phi-Phi Island kami. Jadi, di awal (after bargaining), kami membayar 1000 BHT per orang untuk bisa bergabung dengan tur ini. Tur ini berlangsung selama 12 jam. Semua biaya sudah all-in, including all-you-can-eat lunch, peralatan snorkeling + diving.







Kayaknya si Dimas udah kliyengan deh gara-gara laper. Sabar ya Dim, Aji sama Aya lagi antree makanan tuh.



gue, beserta kantongan putih perintilan kamera

Dari segala macam makanan ada semua. European-to-Asian kind of dishes. Spaghetti, tomyam, semangka, daging-dagingan, ikan-ikanan, begah! Setelah kenyang, kita lanjut snorkeling di Phi-Phi Dooooooon~



Di tengah snorkeling, si Aya merintih-rintih sakit perut gara-gara kebanyakan makan. Huahahahha. Ada tuh videonya, tapi sayang gabisa dilampirkan disini, gagal mulu.

Snorkeling-an setengah hari-an, bikin jiwa segar. Setelah refresh, mari kita pulang ke daraat!



penampakan speed boat kami

Snorkeling-an setengah hari-an, bikin jiwa segar. Setelah refresh, mari kita pulang ke daraat!


Back to the city!
Jadi, kalau boleh dirinci, perjalanan kami yang-hampir-12-jam-an ini adalah seharga BHT1000, setara dengan 290 ribu rupiah. Rutenya : Hotel - Chalong Bay Harbor - Loh Samah - Phi-Phi Ley - Viking Cave - Pi Leh Cave - Monkey Islands - Phi-Phi Don - Maya Bay - Khai Nok Island.


Cerita yang lain, ditunggu ya..







"Travelling is not about the destination, it is about the way how we face the life amazingly.." - TVS
Read More

Koh Phi Phi Island Photostory (1/2)

Oke. Sebelumnya, mohon maaf, karena ini adalah postingan masa lalu yang baru sempat dikerjakan sekarang. Udah kesimpen di draft berbulan-bulan, cuma nyatanya rasa males emang berhasil menjadi juara bertahan. Namanya juga Phi-Phi Island, yang it took place in Thailand lah ya. Bersama siapa? Nanti lihat aja foto-fotonya. Mau gue buat semacam photo-story, kalo nanti ternyata jadinya bukan kayak photo-story, ya anggap aja itu photo-story. Hahahhaa, maksa! Cus lah!

Sebelumnya, dari hotel tempat kami menginap, kami dijemput dengan menggunakan van menuju Chalong Bay Harbor. Lumayan lah, menghabiskan waktu sekitar 20 menit. Lalu disana, kami antre untuk menaiki kapal menuju Maya Bay. Ada dua pilihan, dengan menggunakan kapal ferry dengan muatan 200 orang dan memakan waktu dua jam, ataaaauuu... dengan speed boat bermuatan 30 orang dengan waktu 45 menit saja. Meskipun agak mahal, ya saya pilih yang kedua..

kegirangan liat pantai. lihat aja cengiran sama glasses-nya
Ini waktu di boat mau ke Maya Bai.Pol kan, apalagi kacamatanya. Nama kapalnya: Sea Angel Speed Boat. Note to you, gue duduk di bibir speed boat, paling ujung jung jung, di hadapannya langsung teluk luas plus tebing-tebing tinggi. Wooohoooooo~ Oia, gue udah bilang belum kalau di seberang gue itu ada segerombolan turis-turis India (yang kesenengan kalo lihat gue, bawaannya pengen ngajak aca-aca) LOL.

Itu yaaa, gendutnya kok gak ilang-ilang sih. Pffffft!

Aji, Dimas, beserta boat-boy. Lihat, si Aji masih aja pake baju MB (lihat logo Jupiter dilengannya)

Masih di boat menuju Maya Bai. Agak kasian ya, wan-kawan, melihat foto ini, dimana Aji sama Dimas berusaha menarsiskan diri tanpa bantuan siapapun. Si pink-boat-boy udah siap-siap gaya, barangkali gue kena jepret juga, pikirnya.



Wei.. Weii... Kameranya di belakang, kenapa lo pose ke depan, Dims? Hhahaha. Lihat cara gue memegang kamera itu, antara deg-degan sama pengen ngelempar ke laut. Sebel banget lagian, speed kapalnya kenceng banget sampe airnya nyiprat-nyiprat ke dalem. Alhasil, kita (baca: gue dan Aya) sibuk menyelamatkan perintilan-perintilan dokumentasi, ditambah goncangan-goncangan maha dahsyat gara-gara ombaknya yang sangat besar. Alhasil, kejedot sana kejedot sini. Orang hamil sangat tidak boleh menaiki kapal ini, daripada nanti kenapa-kenapa.


Penampakan ketika hampir mencapai Maya Bay. Tebingnya tinggi-tinggi, coy. Oia, kalau kalian ngeliat ada sewek di pinggiran foto ini, itu namanya Tsu, turis juga sama kayak kita, dia orang Cina yang kuliah di Australia. Lupa, siapa namanya, ekekekekk.


Ini adalah salah satu gua yang dapat ditemui saat perjalanan menuju Maya Bay. Namanya, Viking Cave. Kalau ada kapal menepi kesana, pasti burung-burung di dalamnya pada berkeliaran keluar dari dalam, mengudara. Cantik!

Disitu ada gua-gua yang isinya burung-burung cantik.



Tebing-tebing macam ini juga banyak ditemukan di Halong Bay, Vietnam. Udah kesana? :)

 
Bentar lagi kita sampai di Maya Bay
Add caption

Kenapa siiih kenapaaa? Padahal background-nya ciamik, tapi kenapaa yang kepotret hanya bando saya sajaaaaa... Jahat! *drama episode 101*

Me and my watermelon-glasses, while Aya with her bicycle-glasses. Cool, na? :p

Si pink-boat-boy yang tadi sempet foto bareng Aji-Dimas, sekarang udah bersiap-siap kembali bekerja. Mempersiapkan jangkar dkk supaya nanti kapal ini bisa bertengger.

Thank God i've been there. :)

Selain kapal penumpang, banyak juga loh nelayan yang mancing ikan disini. How cool they are, bisa mendayung sejauh itu!

Namanya Miss Joanna
Hey.. Hey.. Hey.. Here is our tourist guide, named Jo! Katanya sih namanya Miss Joanna. Hehehhe. He's super fun! Lucunya ngalahin Asmuni Srimulat. That's how a tourist guide shud be. Ngga ngebosenin, kooperatif, yang paling penting, harus bisa berkomunikasi dan ngertiin maunya para turis. Yengga, mas?

si tourist guide nya demen banget ngegodain para Indian itu. Bleh!



 Nah, inget cowok-cowok India yang tadi sempet gue singgung diatas? Here are some of them. Lupa aja gitu siapa nama-namanya. Yang gue inget, dia sempet nawar-nawarin kacang khas India yang katanya cuma ada di India. Pas gue liat, ini mah kacang telur yang di Jakarta juga banyaak. Tapi, emang rasanya beda sih, yang punya India ini rasa kare, kecut-kecut gitu. :D
Setelah kenalan dan ngobrol-ngobrol, emang dasar turis yaa.. Dia bilang kapan-kapan mau ke Indonesia, ketemu gue dan teman-teman lagi. Preeeeet! Hahahhaa.. Mereka juga bilang, kalo nanti ke India, lebih tepatnya Delhi, boleh banget kok nginep di tempat salah satu dari mereka biar bisa irit budget. Hmmm, i'd like to, buuuuut, let me think later, dudes! Hahhahaa






Prikitieww.. Now, we're arrived! Foto kaki di pasir putih dulu lah ya sebentaaar.. :))
Read More

Saturday, August 20, 2011

Hari itu, 03082011

Butuh suasana khusus untuk nyeritain ini ke dalam tulisan, karena apa yang gue alami ini udah agak lama, sekitar seminggu yang lalu, dan gue berusaha untuk tetep ngejaga feel itu supaya gak hilang sampe akhirnya gue abadikan ke dalam tulisan. Hehehe. Oke.

Waktu yang ditunggu telah tiba. Hari ini, 03 Aguustus 2011, saya bersama kedua teman saya, akan melakukan trip ke negara Thailand. Namun, di awal sempat saya ragu, dan hampir memutuskan untuk tidak ikut, karena satu dan lain hal. Tapi ternyata, saya mendapati diri saya ada bersama-sama dengan mereka di Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta. Siang itu, pukul 14.00, kita resmi berkumpul persis di bawah plang "Terminal 2D Keberangkatan Luar Negeri". Dengan sedikit euphoria, kita sempat-sempatnya mengambil foto di pesisir jalan itu. Senyum dan gelak tawa terus merekah. Sayang, satu sahabat tidak hadir disini. Ya, harusnya kita melakukan trip ini berempat, namun karena ada hal yang masih harus diselesaikan di Jakarta, maka sahabat kami itu pun menunda keberangkatannya. Setelah puas berfoto, kami pun berjalan menuju ruang check-in. Dengan carrier di punggung kami, dengan mantap kami melangkah menuju counter Air Asia. Setelah membayar airport tax sebesar Rp. 150.000,-, kami pun bergegas menuju bagian imigrasi. Oh ya, ternyata seat number kami berbeda-beda. Awalnya kami agak kecewa, tapi yaudalah ya, cuma 2 jam perjalanan juga. Sesampainya kami di ruang imigrasi, masih dengan semangat '45, kami mengisi immigration card. Tak lupa, kami juga selalu mengabadikan diri kami dalam setiap jepretan foto kamera SLR Nikon, serta merangkum semua yang kami lalui dalam video kamera. Benar-benar lengkap lah persiapan dokumentasi kami kali ini. Mari kita rinci : 1 kamera SLR Nikon, 1 Handycam, 2 Digital Camera, 3 Handphone yang juga tetap berfungsi sebagai kamera, 1 Kamera Lomo, 1 tripod, 1 camera remote, dll. Cukup lengkap, bukan? Hehehe.
dari sebelah kiri : Aji (yang pake celana pendek), Saya (yang pake trousers hitam), dan Aya (yang pake short pink), we are the backpackers! <3

Oh ya, kami sempat menemui masalah ketika melalui proses pengecekan bagasi. Pasalnya, carrier yang kami bawa diduga tidak bisa masuk kabin, sehingga harus masuk bagasi, dan harus membayar ekstra Rp. 165.000,-. Ah, gak mau! Gak punya duit! Hahaha. Tapi, setelah nego dengan petugasnya, jadilah kami diperbolehkan membawa carrier kami ke kabin. Sesungguhnya, carrier kami berat-berat loh. Punya saya, beratnya 12,6 kg. Punya Aji, 9,8 kg. Punya Aya, 8,6 kg.
Setelah melalui kantor imigrasi, sampailah kami di ruang tunggu Air Asia, karena pesawat yang akan kami tumpangi masih dalam persiapan. Inilah kami saat itu..

saya dan Aji, ketika memasuki ruang tunggu Air Asia

Tepat pukul 16.05, terdengar berita bahwa penumpang Air Asia dengan nomor flight QZ 7744 tujuan Phuket sudah dapat memasuki pesawat. Yep! That is our plane, leggo! :)
 Daan, ternyata penumpang saat itu gak terlalu banyak, jadilah saya bisa pindah ke belakang, duduk dengan kedua teman saya. Sepanjang perjalanan, dua jam-an kami habiskan untuk mengabadikan pemandangan, bermain UNO, Sudoku, TTS, dan mendengarkan musik. MOCCA masih tetap menjadi top songs di playlist saya, dan kebetulannya kami bertiga adalah swinging friends Mocca. Pas banget!
Oia, di belakang saya, juga ada dua pemuda bule yang juga ke Phuket. Kelakuannya gak karuan meen, semena-mena aja gitu dia selonjoran di bangku pesawat, hahha. Entahlah, mungkin mereka juga backpackers, pikir kami. Perjalanan mengudara kami kali ini cukup lancar, meskipun di tengah perjalanan sempat dikabarkan bahwa cuaca kurang baik, tapi kami tiba on time. Pukul 18.13, pesawat kami mendarat di Phuket International Airport. Huhuyy. Setelah lolos dari pengecekan, kami pun keluar menuju ruang informasi untuk berburu map dan brosur2 mengenai Phuket dan Bangkok.

Yeaaay, touch down Thailand! Ini kali kedua saya kesini, sementar mereka adalah yang pertama.
Oh ya, di dalam pesawat tadi, saya berkenalan dengan Mbak Retno, teman duduk saya. Dia hendak pergi ke Hat Yai, ke rumah suaminya. Hahaha. Dan, pas saya ceritain apa yang akan saya lakukan setelah sampai Phuket, dia berencana membantu saya dengan mengantarkan saya ke terminal Phuket, bersama suaminya, Mr. Muhammad. Setelah berembuk dengan dua yang lain, saya memutuskan untuk menolak tawaran itu, karena kami tidak mau merepotkan. Kami lebih memilih untuk naik Orange Bus menuju terminal. Seru bos! Perjalanan ke terminal memakan waktu 1 jam. Sampai di terminal pukul 9 malam, dan kami melihat-lihat counter penjualan tiket ke Bangkok. Jeng jeng! Gak keburu! Karena bis terakhir ke BKK udah berangkat. BARUSAN! Argh! Wokee, fine! Kita memutuskan untuk berangkat besok, bis paling pagi, pukul 04.30. Huff, abis ini kemana donk? Nginep di terminal? Apa kemana? Tenaang.. ada yang lebih seru dari ini.
Kita niat cari makan dulu. Keluar lah kita dari terminal, dengan 'gambling' nya, kita jalan ke arah kiri. Bukannya nemu tempat makan, kita malah ketemu abang2 penjual durian. Tetottt! Aya dan Aji mukanya langsung berbinar, beda dengan gue yang langsung kicep nyium baunya. Yap! Inilah perbedaan kita, disaat ketiga teman saya adalah orang yang 'freak' durian, saya adalah orang yang 'a-really-big-NO' sama durian. Dari segi apapun, saya gak pernah suka sama durian, baik itu baunya, bentuknya, apapun lah. Tapi, akhirnya mereka batal makan durian, karena ya itu, orang belum makan udah mau ngisi perut pake durian, bisa-bisa meledak tuh perut dicekokin gas.
Lalu, kita jalan menyusuri kota Phuket itu, tetap dengan carrier yang kian lama terasa berat itu, hingga akhirnya mempertemukan kita dengan McD di daerah Phuket Square. Mameeeen~ tetep yeh, gak di Phuket, gak di Jakarta, gak di Bali, gak di Mataram, McD is the best place for us. McD emang paling pengertian deh! Hahaha.
Masuk McD, kita langsung duduk, dan yang paling penting naruh tas yang segede-gede gaban itu. Trus liat-liat menunya, meen, yang paling murah 25B, atau  sekitar 7500an, dan gak ada paket 5000an, gak ada paket nasi. Ok, fine! Gue pilih beli french fries sama Mc flurry, dengan seharga total 59B, atau sekitar 16000an. Glek~
Di McD ini, kita nemu berbagi orang. Mulai dari Mr. GI Joe, si Muay Thai boxer yang badannya gede banget plus sejuta tatto di tubuhnya, trus ada lagi bule-bule lain yang, ah, speechless lah. >:)
Di dekat situ ada 711, pergilah gue kesana sama Aya, sementara Aji bertugas untuk menjaga tas-tas kita. fwi, 711 disini, tidak seperti di Jakarta. Disini, dan bahkan di negara lain pun, 711 tidak lebih seperti Alfamart di Indonesia. Dan, memang sepertinya cuma di Indonesia aja yang 711 nya jadi ajang tempat nongkrong anak-anak gahul. Hehehe!
Oh ya, gue udah bilang belum kalo kita nginep di McD ini? Ha! Yes, kita bertiga nginep di McD ini, dengan spot yang cukup nyaman buat tidur. Kita duduk di pojokan, yang dibawah mejanya ada colokan, dan kurusinya pake kursi panjang. Puool! Gue, didukung dengan spot duduk gue, yakni di pojokan senderan tembok, tidak sengaja terlelap paling duluan. Tidur dengan berjaketkan MBUI 2009, yang merah putih itu. Hahaha.
dari pojok deket dinding itu ada gue, yang lagi tidur nyamping, cuma kelihatan capuchonnya doank itu, trus disampingnya ada Aya yang lagi ngorok, diikuti Aji yang kelihatannya udah mabok parah. LOL
Sungguh banget ini keadaan McD udah amburadul banget karena kehadiran kita. Terlebih, pas jam 3 an, di depan kita, ada segerombolan polisi yang lagi pada makan, dan matanya terpaku sama kita, dan tiba2 salah satu dari mereka senyum ke gue, sambil ngomong : "Oh, you are from University of Indonesia!". Glek! gue bingung donk, kok doi tahu?. Dengan pasang muka bego, gue ngomong gini : "Loh? Kok dia tau?". Eh, seolah dia ngerti bahasa yang gue omongin, dia senyum sambil nunjuk ke arah laptopnya Aji, yang emang lagi gue pake saat itu. Ternyata, di badan luar laptopnya Aji ada stiker UI. Ooooo~

By the way, cerita ini udah masuk ke tanggal 04 Agustus 2011. Kita bikin postingan baru aja kali ya.
Read More

Tuesday, August 09, 2011

This is what i feel after all this endless journey


"Changes you can expect to experience during backpacking."
Before you packed your bag, made an itinerary, or said goodbye to your friends and family : YOU WERE YOU. While maybe one of the reasons you set out on this journey was to do some soul searching, for the most part, you have already defined yourself: funny, shy, trendy, likes to read, likes to write, likes to cook, likes to party, the clothes you wear, or even how you treat other people, all of this is bound to change to some degree while on the road.
Everyone has their own journey, whether it be for one month or one year, or even just for couple of days. No matter the duration, the people you meet, challenges you overcome, and experiences you have will inevitably change you. This isn’t a bad thing, merely  a reality check; something to prepare yourself for at the beginning of the trip, or more realistically, at the end. Because it isn’t until you reappear on your home doorstep that the changes all become blindingly obvious.
What kinds of changes exactly are you wondering will take place? Well for the starters, your wardrobe will shift. What was once your favorite old T-shirt somehow got chucked out to make room for all those new beer singlets you’ve picked up along the way. What you once saw as the most hideously huge Hammer pants are now the most comfortable thing you own. And to top it all off, you arm is an ever-increasing collection of ‘jenky’ bracelets that showcase all the memories and good times you’ve had. While these breacelets will look ‘hippie’ and ‘dirty’ to the outside world, you will find yourself fiercely protective of them when returning home, refusing to cut them off as if they were another limb.
Also, your horizon will broaden and things you once disliked might become something you love. From spicy foods to musical taste, you will be exposed to a whole new world of options on the road. Slowly but surely your opinions will change about world politics, places you want to visit, and even what you choose to eat.
Other chanfes will involve your personality. With false information, long bus journeys, and bamboozling of all sorts, you patience is bound to be tested. By the time you return home you will surely find yourself more tolerant of other people and situations. Suddenly that loud-mouthed person on the tube isn’t so annoying; nor is that that seemingly endless line at the market, somehow the little things that used to get under your skin so much barely register on your radar. You’re usually too busy appreciating the conveniences now so abundant that just weren’t available whilist backpacking!
And, one of the most popular changes, yet surprisingly to the individual, is a complete change of direction in life. When setting off for the adventure, you probably saw it as a small opportunity to blow off some steam after graduating, perhaps a short breakfrom a few years of working hard in the real world? No matter the situation, you’ve planned on going home and staying there merely to plan short vacations in the future. But before you return home you find yourself longing for more adventure already and planning your next trip. Perhaps a new destination like South America, or a return to a favorite beach bungalow in Thailand, or even the possibility for a long term work as an English teacher as the mere thought of returning to the ‘real world’ becomes frightening. This is the big sign that something major has shifted within you. For all the travelers this is natural, common, and nothing to be afraid of. But to your friends and family back home this is terrifying. They might be actually lose you to this mysterious and foreign world that you call backpacking and this is disconcerting.
But then there is that one side effect rarely talked about but massively important: INSPIRATION. While you friends back home might become jealous or bitter about your disappearance and constant upbeat status updates, you might have just inspired some to venture out into the unknown themselves. You make it seem so effortless and fun, why can’t they do it? LOL. Travelling long-term is a foreign concept to many people and something never to consider doing alone. But if they know someone who’s done it that can offer advice, experience and possible companionship, well, why not take the leap themselves?
No matter what, throughout your life you style will alter, opinions mature, and preferences modify. This journey is just another step of growing up and while the transformation within yourself can be surprising and unexpected, it’s the inspiration you offer to others that make the big difference. BECAUSE NOT ONLY IS THIS JOURNEY BOUND TO CHANGE YOU, YOU ARE BOUND TO CHANGE THE WORLD.








Hell-o-yeah-traveler!
Read More

Wednesday, January 26, 2011

we're in a trip (not a fight)

Seumur hidup kalau saya jalan-jalan bareng teman-teman, tidak pernah berantem. Makanya saya heran ketika beberapa orang curhat kepada saya bahwa mereka berantem dengan teman-teman (dekat) sendiri saat jalan bareng. Ada yang sampai nangis-nangis, ngambek-ngambekan, malah jadi musuhan sampe tidak saling ngomong. Ih, apa banget sih? Makanya saya merasa perlu untuk menuliskan tips jalan bareng teman yang nggak pake berantem.

Pertama, baca ini dulu. Pemilihan teman jalan itu sangat penting. Jangan hanya karena malas jalan sendiri Anda jadi sembarangan cari teman jalan. Percayalah, teman jalan yang salah bisa bikin bete berkali lipat dibanding jalan sendiri. Saya aja hanya mau jalan dengan sahabat-sahabat jalan saya yang sudah saya kenal bertahun-tahun (hoek! lebee to the max. haha!) – yang kalau sahabat saya ‘kumat’, saya cuma ngetawain aja. Kalau pun dapat teman jalan, sadarilah bahwa tidak semua teman enak diajak jalan bareng. Dan tanamkan ini: karena jalan-jalan itu melelahkan, maka fisik dan mental jadi kacau sehingga mudah naik darah.


Toleransi kita harus tinggi meski terhadap teman sendiri. Kuncinya, komunikasi harus terbuka. Mulai dari membicarakan siapa tidur di tempat tidur yang mana, apakah tidur lampu menyala atau mati, kalau mau merokok boleh nggak di dalam kamar, kalau mandi siapa duluan, sampai kalau ada yang tidak pulang apakah diperbolehkan. Kalau masih ragu dalam membuat keputusan, lakukanlah voting atau bahkan gambreng dan suit. Ada juga lho kejadiaan ngambek-ngambekan gara-gara rebutan cowok. Temanmu naksir cowok yang ketemu di jalan, padahal cowok itu naksir kamu, atau sebaliknya. Nah, gimana coba? Itu sih dipikirin sendiri aja gimana? Hehe. (ini pengalaman bukan ya? hayo ngaku ngaku ngakuu.)

Seasik-asiknya teman sendiri pasti ada perbedaan dalam selera jalan-jalan. Makanya sebelum pergi, sepakati dulu itinerary-nya. Setiap orang suruh riset masing-masing, baru tentukan tujuan. Jangan mengandalkan satu orang yang membuat semuanya karena interest setiap orang berbeda. Ini termasuk juga untuk penentuan tempat menginap. Setiap orang harus tau harga penginapan berikut kondisinya. Jangan sampe salah seorang protes karena kamarnya jelek lah, ada sarang laba-laba lah, bau lah. Kalau sudah booking, semua resiko itu harus ditanggung bersama. Tapi kalaupun ada satu yang tidak mau terlibat dalam perencanaan dan dari awal bilang “terserah elo deh” berarti konsekuensinya adalah apapun yang terjadi dia nggak boleh protes – dan Anda harus mengatakan dengan jelas kepadanya.

Pernah ngalamin mencar-mencar di jalan sehingga saling cari-carian sampe abis waktu sia-sia dan bete berat? Gimana coba cara ngatasinnya? Hari gini sih ada handphone. Nyasar tinggal SMS. Tapi tidak semua handphone pulsanya penuh dan bisa international roaming. Lagipula biaya SMS di luar negeri mahal banget. Makanya kalau terjadi perubahan itinerary di jalan – yang satu ingin ke A, yang lain ingin ke B, ya biarin aja. Yang penting, sepakati  jam dan tempat ketemuan selanjutnya. Jangan lupa, penentuan tempat harus spesifik benar, misalnya di mall X, kafe Y, kursi Z. Sebelumnya, lihat masing-masing handphone dan arloji masing-masing, lalu sesuaikan. Soalnya perbedaan waktu di suatu tempat sering tidak disadari sehingga jam belum disesuaikan. Sepakati back up plan seperti bila nanti nggak ketemu. Contohnya, ditunggu maksimal 10 menit dan yang terlambat silakan jalan sendiri ke hotel, entah gimana caranya. Meski teman sendiri, kita harus disiplin. Anda pun harus berani meninggalkan dan ditinggalkan teman.

Terakhir adalah masalah duit. Katanya ini sering menjadi sumber berantem di antara teman yang jalan bareng. Boleh ditiru bagaimana saya menyelesaikan masalah perduitan ini. Kami menyepakati dulu siapa yang jadi bandar. Tugas bandar adalah membayar keperluan bersama dan mencatatkannya di buku. Bandar perlu ada karena alasan keamanan. Kalau kita keseringan buka tas dan buka dompet untuk bayar hal yang remeh-remeh seperti ongkos naik angkot, maka kemungkinan dompet dicopet atau hilang makin besar. Dengan adanya bandar, setiap hari kami di dompet cuma bawa recehan, sedangkan duit gedenya disimpan di dompet khusus. Jangan lupa, kalo berada di luar negeri, setiap mau jalan, paspor harus ready di tas.


Peraturannya: Akan lebih baik apabila, setiap hari menyetor uang kepada si bandar untuk keperluan biaya transportasi dan penginapan. Jumlah masing-masing orang telah disepakati bersama berdasarkan aktivitas yang akan dijalani hari itu. Kalau ‘makan tengah’ alias beli makanan dengan memesan lauk pauk yang dibagi rata, maka duitnya dibayar oleh bandar. Tapi kalau makan yang lauknya pesan sendiri atau jajan di luar makan bersama, maka duit dibayar masing-masing. Kadang ada teman yang tidak mau jadi bandar terus menerus. Nah, supaya adil, maka jabatan bandar digilir setiap hari. Tugas dan peraturan perbandaran sama, tinggal nyetor duit ke orang yang berbeda. Setiap malam sebelum tidur, kami memeriksa catatan pengeluaran dan serah terima. Kalau ada hutang, dibayar saat itu juga sehingga posisi jadi 0 lagi.



Moral of the story: kalo males ribet sama teman jalan, ya jalan aja sendiri. Jangan sampe liburanmu jadi bete abis. Apalagi sampe kehilangan teman!














Have a great backpacking! Cups! ^_^
Read More
Written by tvelofas. Powered by Blogger.

© Je Suis Moi ♥♥, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena