For what i feel, what i see, what i hear, what i dream of, what i used to be, what i would be. Here i am. Just take a deep breath, then read!

Showing posts with label Self-note; Not-a-story?. Show all posts
Showing posts with label Self-note; Not-a-story?. Show all posts

Thursday, May 21, 2015

Karena yang kamu lihat, belum tentu apa yang mereka rasa.

Pernah tidak kamu berfikir bahwa orang yang saat ini ada di samping kamu, atau yang ada di depan kamu, yang sedang tertawa lepas, hatinya ternyata sedang berduka? Atau mungkin orang yang kamu temui murung sepanjang hari, ternyata dia sedang diliputi kebahagiaan namun sulit untuk mengekspresikannya?

Saya pernah. Sering lebih tepatnya. Saya sering mengamati keadaan sekitar saya. Ekspresi orang-orang di sekililing saya dan situasi yang sedang terjadi. Saya senang menganalisis apa yang kira-kira sedang terjadi, apa yang kira-kira sedang mereka rasakan. Banyak orang yang begitu ekspresif, tetapi tidak sedikit orang yang mampu menyimpan perasaannya. Bahagia, padahal luka. Cemberut, padahal diam-diam suka. Menarik, kan?

Ekspresi wajah, bagi sebagian orang adalah hal yang penting dan menarik untuk disimak. Mengapa?

Kebanyakan mimik itu menandakan perasaan yang sedang dialami. Hal ini lah yang menjadi indikator seseorang untuk menilai orang lain dan menjadi penentu bagaimana harus bersikap. Nah, yang menarik bagi saya adalah belakangan ini banyak mereka-mereka yang sedang berakting menutupi perasaan mereka. Mengenali apa yang sebenarnya mereka alami itu menjadi poin tersendiri untuk saya. Seperti membaca luka dibalik tawa, bimbang dibalik riang, peduli dibalik angkuh. Inilah yang menuntut saya untuk lebih peka, sehingga pada akhirnya secara refleks saya sering menganalisis manusia. Seperti yang pernah saya sampaikan sebelumnya bahwa saya sangat tertarik dengan manusia. Manusia itu adalah makhluk yang sangat sensitif, makanya analisis lah yang membantu saya menyikapi mereka.

Kenalilah duniamu. :)

Read More

Tuesday, May 12, 2015

24 is just not that hard.


I am officially 24.
24 years old means no more 17 or 18 or even 20. Sebenernya udah hampir sebulan sih ulang tahun nya. Tapi, ya gitu, sampai sekarang saya merasa tidak ada yang istimewa. Nothing special with this new age. Apa emang setiap orang yang bertambah tua itu akan semakin tidak se-cheerful usia 17? Berbeda ketika dulu memasuki 20, atau 22, dimana saya excited sekali menyambut tanggal 14 April. Sempat saya berpikir apakah masa remaja saya stop di angka 22, karena selebihnya  saya harus sudah lebih serius dalam menyikapi hidup.

Usia 24 bagi saya sudah mulai menunjukkan tingkat kesulitannya. Mungkin karena pengaruh akselerasi kehidupan. Iya, percepatan bangku pendidikan dahulu membuat saya harus mengalami aksel kehidupan secara tidak langsung, suka tidak suka. Saya dituntut mengalami percepatan pergaulan dan masalah hidup. Bagaimana tidak? Di usia yang harusnya baru masuk kuliah,  saya justru sudah masuk di problematika karir. Disaat temam sebaya punya peer-group yang seumuran, peer-group saya justru mereka-mereka yang dewasa dan boleh dikatakan cukup matang. Disaat teman sebaya menikmati kehidupan mall di jam kerja setelah kuliah, saya juga tidak kalah sibuknya erkutat di belakang meja mengerjakan report kantor. Haha, life is that unpredictable ya!

Hal ini pun secara tidak langsung membawa pengaruh ke pola pikir. Bagaimana cara saya berpikir, bagaimana saya bertindak. Tidak bisa lagi memperlakukan seacuh dulu. 2015, 24 tahun. Adalah hal yang cukup serius yang harus dijalani. Bukan tentang bagaimana lagi harus bersikap, tapi justru bagaimana memberi sikap yang baik yang bisa dijadikan teladan. Bukan cuma tentang memberi, melainkan tentang menghargai dan benar-benar menerima.

Other's grass may looks greener. Hidup orang lain mungkin lebih indah, tetapi ladang kita adalah anugerah Tuhan. Nah, tugasnya sekarang adalah bagaimana menghasilkan ladang yang berbuah?

Happy 24, anyway!
Read More

Thursday, October 17, 2013

Iya, belum terlambat kok!

Kadang memang penyesalan bisa datang di awal, tapi berapa banyak sih yang bisa sebut itu sesal? Bisa jadi itu namanya antisipasi. Tapi, kalau namanya belum terlambat itu bisa dikategorikan menyesal atau antisipasi?

Saya pribadi jujur merasa, meskipun sudah tahu ini memang belum terlambat, rasa dalam hati udah timbul sesal. Kayak ada yang bilang kalau you already lose something though it still has second chance. Emang belum terlambat sih, tapi kenapa malah bikin takut melangkah ya? Gak seberani ketika taking the first step. Secupu itu kah saya? Terlebih, saya orangnya gampang banget kecewa sama diri sendiri kalau ada suatu hal yang gak beres, meskipun gak semuanya kesalahan saya. Kadang, saya ngerasa the more i know something, the more i feel me meanless. Makin banyak tahu, makin ngerasa gak berarti karena gak bisa ngerjain semua, gak bisa ngapa-ngapain. Itu jeleknya saya, semuanya pengen dikerjain sendiri. Cukup sadar sih karena masih banyak yang sebenernya bisa diandalkan, tapi ya itu tadi, saya orangnya perfeksionis. Bukan nganggep kalau hal itu dikerjain orang lain lantas hasilnya gak bagus, tapi lebih ke kepuasan pribadi aja kalau saya yang ngerjain. Balik lagi, semua itu kadang gak sesuai sama implementasi. Nyatanya di lapangan saya tetap herkoordinasi dengan orang lain, memahami kalau ngga semua bisa dikerjain sendiri. Untungnya, saya bukan orang yang sulit berkomunikasi atau bekerja sama dengan yang lain.

Gitu juga sama hati. Segala hal pribadi atau jenis cerita yang umumnya jadi bahan cecurhatan, gak bisa segampang itu saya curhatin ke orang. Saya terbiasa menyimpan masalah saya sendiri. Bukan berarti memendam ya, ini lebih ke keeping my personal life sih. Segala jenis masalah pribadi saya, saya simpen sendiri, saya analisis sendiri, saya cari solusi sendiri, saya jalanin sendiri. Kok bisa?
Iya, karena saya memang sebenernya bukan tipe pencerita. Itu satu. Kedua, karena saya juga banyak menemukan cara yang mengatasi masalah saya dari mendengarkan cerita orang lain. Saya terbiasa jadi 'tempat sampah'. Nah, dari setiap 'sampah' yang orang ceritain ke saya, entah itu hanya ingin didengarkan, ataupun dicarikan solusi, dua-duanya bikin saya mikir, sehingga saya jadi tahu keberagaman masalah dalam hidup. Keterbiasaan ini dulu bikin saya mau masuk fakultas psikologi. I am interest with people and environment.

Karena jarang curhat, beberapa orang menilai saya introvert, bahkan kedua orang tua saya pun begitu. Kadang orang berkomentar kalau saya sukses memberikan mereka solusi tapi kenapa justru saya gak sukses memecahkan masalah saya sendiri. Itu opini mereka kebanyakan, ya karena itu tadi, saya dibilang introvert. Tapi, ke sebagian orang, saya orangnya terbuka kok. Oh iya, satu lagi, saya orangnya sangat senang ngobrol. Ah, bahaya!

Saya dulu terbiasa curhat di buku harian. Manual banget deh pokoknya. Rajin banget tiap malem nulis di diari tentang apapun, bisa dibilang saya ya 'muntah'nya ke diari, bukan ke orang. Tapi yang saya heran, justru kecanggihan teknologi ini (serta kesibukan yang tiada tara ini) malah bikin saya malas. Hm, tepatnya bukan malas sih, lebih ke apa yah? Bingung. Harusnya, connecting to the internet tiap hari bikin saya rajin curhat, tapi kok ini engga. Aneh! Gara-gara ini, kadang saya ngerasa saya kehilangan tempat curhat. Kadang juga ngerasa saya terlalu sibuk, sampai-sampai ketika punya waktu luang pun bukannya nulis, malah memilih untuk tidur. Salah fokus emang!

Ngomong-ngomong fokus, si orang itu (iya, orang itu, jangan disebutin namanya disini, malu!) ngingetin saya untuk lebih terbuka (ke dia), bilang kalau ada apa-apa sebaiknya cerita ke dia. Ih, apa banget ya? Thinking that you have to know all 'bout my doubts gitu? Hihihii. Saya malah jadi ge er digituin, itu artinya dia perhatian ke saya, pikir saya. Hm, tuh kan salah fokus lagi!

Ah, otak saya emang kemana-mana banget sih. Kalau lagi blogwalking-an, saya ngerasa saya i am less while others more. Hahahaha, pesimis banget gak sih!

Iya, emang lagi pesimis, sepesimis itu. Balik lagi ke awal, hehehe. Dari sekian banyak kata diatas ini, itu cuma prolog. Intinya, saya lagi pesimis, down, whatever you name it! Hehehe. Menghindari kata galau, saya pilih pesimis.

Sambil nulis ini, mp3 player yang saya setel random, muterin lagu-lagu ini :
1. Belum Terlambat - Padi
2. This Ain't A Love Song - Bon Jovi
3. Benci Untuk Mencinta - Naif
4. Never Is A Long Time - Roxette Feat. Scorpions

Terus saya komen dalam hati: damn it, pas banget! *sighing*

Read More

Friday, January 18, 2013

Manggarai, 11 malam.

Yang biasanya saya senang hujan datang, kini saya meragu akan hal itu. Kondisi membuat saya takut akan hujan malam ini. Ya, malam ini, dimanasaya duduk sendirian di peron stasiun. Malam sudah larut, sejam lebih saya disini, menunggu yang tak kunjung datang. Manggarai malam ini entah kenapa terasa sangat mencekam. Awalnya berkabut, dingin yang luar biasa. Tidak ada penerangan, lumpuh total. Saya sedang menunggu kereta pulang menuju Bekasi. Saya lirik jam tangan, pukul 21.26. Gelisah, karena petugas baru saja mengumumkan bahwa kereta terakhir keberangkatan Bekasi, masih di Bekasi menuju Manggarai terlebih dahulu, dan berangkat menuju Bekasi pukul 22.45. Fyuh~ Masih sejam lagi. Ragu, karena tidak ada akses lain menuju rumah selain dengan kereta. Tidak mungkin saya naik angkot, karena tidak ada angkot yang beroperasi di tengah banjir yang belum surut. Baiklah, saya menunggu.
 
Suasana malam ini, dingin. Sudah saya bilang kah sebelumnya bahwa saya sendirian? Ponsel pun lowbatt. Belum mengabari orang rumah, juga membuat saya cemas. Tiba-tiba hujan deras mengguyur stasiun, disertai angin kencang. Ih, saya ingin segera sampai rumah. Tak sadar saya menangis sesunggukan tanpa suara. Ini sudah malam, kereta belum datang, gelap, mencekam. Di sekitar saya hanya ada seorang kakek, anak kecil yang sedang tidur yang saya itu pengamen. Beberapa meter di depan terlihat dua orang petugas peron sedang berbincang. Ada beberapa kereta mengisi jalur rel, yang terpaksa berhenti disitu karena tidak ada akses yang baik menuju Kota. Oke, saya mulai ketakutan. Kenapa sebegininya ini sih? Mau pulang, segera. Saya menilik sekitar mencoba beradaptasi dengan kondisi. Saya merasa berada di kota lain, kota mati. Suram mencekam. Dingin menggerogoti kulit, saya menggigil. Kenapa saya tidak membawa jaket sih?, rutuk saya dalam hati.
 
22.48 kereta saya datang. Hujan masih turun dengan derasnya. Saya naiki kereta itu, dan duduk di dalamnya. 7 menit kemudian kereta melaju meninggalkan Stasiun Manggarai. Saya mengamati sekitar, sepi. Tibalah saya di rumah pukul 23.35, barulah saya sadar, ini malam Jum'at, yang kata kebanyakan orang adalah horor. Ya, saya merasakannya. Apalagi itu Stasiun Manggarai.

Fyuh~ Syukurlah, yang penting saya aman sampai rumah.
Read More

Tuesday, April 24, 2012

It's me. Also you!

Adalah gue yang menilai hidup ini semudah itu
Adalah gue yang membayangkan hidup ini adalah kaya main domino
Adalah gue yang mengagumi semua yang ada di di alam ini
Adalah gue yang gak pernah mengerti kenapa di setiap pertanyaan butuh jawaban
Adalah gue yang gak pernah tahu kenapa Tuhan menciptakan manusia ini dengan berbagai karakter
Adalah gue yang gak pernah berharap ada yang lain yang akan dipertemukan Tuhan buat gue
karena satu-satunya yang gue tahu..
Adalah gue yang lari dari kenyataan

Adalah elo yang selalu bilang hidup gak semudah itu
Adalah elo yang selalu membayangkan hidup ini akan seru kalo kita selalu tertawa
Adalah elo yang mengagumi semua yang di alam ini seperti apa yang gue lakukan










PS : ini postingan udah lama banget di 2011 awal, ketika seseorang bercerita ke gue. Tapi, ternyata baru kesimpen di draft. Sekarang gue posting, tapi nampaknya tuh orang udah baik-baik aja sekarang. Yengga, coy? :))
Read More

Wednesday, April 18, 2012

Si Ello Seperti Dulu

Look at this!




Mukanya nyongor banget pas nyanyiin lagu 'Seperti Dulu' dari album Taub Mumu-nya dia. Ih ih ih..


:))


Hampir gila saya dibuatnya..
Read More

Tuesday, April 17, 2012

Donde estas?

Disfrazando con un beso este vacío que se siente
Ocultando en el silencio otra mañana indiferente
Cada uno caminando en sentido contrario al corazón
Te extraño, amor

Que se moría por una mirada. Que entre tus brazos solo suspiraba
Que le bastaba como una caricia, para curarlo de cualquier herida

Que nos faltaba para enamorarnos, convencidos en nos separarnos
Tú y yo jurabamos y nos creía. Que tanto amor hasta nos sobraría
En dónde estás? En dónde estoy? Si te queria

Y es que tengo miedo de perderte en un instante
Que ya no tenga regreso y sea demasiado tarde
 

Ku pejamkan mataku dan ku rasakan saat itu
Masih teringat rasa yang kita punya sejak dulu
Namun ini langkahmu dan ini maumu untuk kamu jauh dariku

And the time just passes by and there’s no more words to say
We forgot to love each other, this is all we ever have
Where did you go if i still love you
Where did you go, where i have, and where am i?
If i still love you
Read More

Friday, April 13, 2012

Jenuh? Mungkin

14 April 2012

Sehari lagi, umur gue bertambah. Bertambah? Bukannya berkurang? Enggak. Bertambah. Karena umur itu kan berkat Tuhan, masa iya berkurang. Berkat Tuhan gak pernah kurang, selalu nambah, ya kan? :)

Yak. Makin tua lah gue besok. Di kosan sendirian, belakangan ini, gue semakin banyak merenung. Semakin banyak ngaca sama diri sendiri. Semakin banyak mikir, udah kaya apa sih lu Re sekarang? Banyak banget list kekurangan gue. Sementara umur nambah, harusnya otak dan hidup juga makin berkualitas. Iya doong. Nah, gue pengen banget itu terjadi tanpa hambatan. Tapi, nyatanya, life is not as sweet as that without pain. Peernya sekarang adalah gimana caranya face it all and success at the end.

Belakangan, gue merasa flat. Stugnant. Eh, ternyata sekitaran juga begitu. Misal, rangers. Gue merasa they are now in their lowest point. Stuck. Bosan. Apalagi? Muak? Hampir kayaknya. Ya, whatsoever. They're them. Gue hampir begitu juga. Hampir. Banyak yang harus jadi bahan perhatian, pikiran gue bercabang. Gue yakin mereka juga begitu. Itulah yang mungkin buat mereka jenuh.
Read More

Thursday, April 05, 2012

Kisahnya, kisahku..

Selamat siang,

Selamat menikmati terik!

Aku masih tidak beranjak dari sini, dari kursiku. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang, karyawan lainnya sudah resah hilir-mudik, nampaknya mereka sudah tidak sabar menunggu libur panjang ini. Namun aku? Masih terpaku dengan diktat Hukum Bisnis ini, lengkap dengan KUHPER dan KUHD. Apa yang terjadi siang ini, adalah yang sering terjadi di siang-siang sebelumnya. Namun, kali ini, ada sesuatu yang agak mencuri pikiranku.Tentang teman-sahabat-senior-atau-apapunlah-itu-kalian-bebas-menyebutnya, yang akan menggelar perhelatan besar dalam waktu dekat. Ah, aku bahagia! Sangat bahagia. Palsukah aku? Mungkin beberapa akan bilang begitu. Tapi ini sungguh. Aku senang. :)

Mungkin cerita akan tetap menjadi cerita. Kebencianku dulu terhadapmu, kuasa yang kau punya, sedangkan aku hanyalah rakyat biasa kala itu. Egomu, membuatku kesal, namun tanpa kusadari aku semakin memperhatikan tingkahmu yang menyebalkan itu. Hingga akhirnya di suatu senja, kau mengucapkan kata maaf padaku untuk segala egomu. Hei, dari mana kau tahu kalau aku begitu kesal kepadamu? Semampu itukah pikiranmu membacanya?

Di penghujung tahun itu, ketika yang lain bersorak lega, kamu datang, dan hampir memelukku. Namun, lihat apa yang terjadi padaku? Sebegitu dinginnya aku tidak menyambut pelukanmu. Aku lalui kau dengan satu senyumanku. Tahu tidak, hatiku rasanya getir. Pertunjukan telah selesai, kuasamu hampir habis. Pertanyaannya, tamatkah cerita kita? Atau mungkin bersambung? Aku tidak tahu, kamu pun mungkin sama.

Yah, awal tahu berikutnya, intensitas pertemuan kita benar-benar habis tak bersisa. Ibarat gelas, dulu airnya penuh, sekarang kosong, hanya tinggal tetes-tetes terakhir. Bagus! Aku telah memulai pertempuran ini. Gejolak semakin berkuasa. Sampai tiba satu saat, aku melihat profilmu di buku muka. Kau, dan dia.

Tidak asing bagiku untuk mengenali wajahnya. Dia, yang dulu juga pernah menjadi kekasih sahabatmu. Bravo juga kelakuanmu, ya! Perlahan kutinggalkan jejak masa lalu. Melupakan bukanlah hal yang mudah, tapi aku bisa.

Sempat kau kembali ke dalam kehidupanku, di tengah tahun itu. Untuk apa sih?, gerutuku waktu itu. Tapi, ternyata setelah aku kembali dekat denganmu, pikiranku luntur. Indahnya pertemanan kita. Tapi, memang dasar kau pria! Pergi dan datang sesuka hati. Cuma sebentar kau disini, lalu kemudian kau pergi untuk waktu yang hampir lama, mencoba peruntungan di kota luar. Teruskanlah perjuanganmu, pria! Semoga berhasil kau!

Habislah sudah kisah kita episode dua kala itu. Namun ternyata, belum tamat. Telah datang episode tiga dalam hidup kita, kau dan aku, setahun yang lalu. Kau tidak lagi bersamanya. Memang, itu bukan berarti kau sendiri, kau bersamanya, yang lain. Rasaku habis padamu. Namun kau? Datang membawa rasa yang berbeda. Hai, pria, apa yang kau lakukan?

Aku disini, kamu disana. Tetap, tidak ada yang berubah. Kita tetap tinggal di kota yang berbeda. Lali, kamulah yang seringkali menjadi alasanku untuk singgah ke kotamu. Acapkali, kau juga menyambangiku di kotaku. Manis, kala itu. Kau bercerita tentang hidupmu, begitupun aku. Pernah sekali ketika aku menumpang di kamarmu, aku secara tak sengaja melihat laci lemarimu. Kutemukan sebuah buku catatan disana. Tampak dari luar, itu hanyalah sebuah buku biasa, tapi maafkan aku, hatiku tergugah membukanya. Ceritamu, dan dia, terekam disana. Buku itu pemberian darinya, untuk ulang tahunmu yang keberapa aku lupa. Nyata sekali, cintanya padamu. Untuk setiap gambar yang ada, kalian tampak serasi, sahabat! Lalu, apa dong yang membuat kalian mengakhiri kisah itu? Ah, tidaklah penting bagiku!

Tiba sebulan yang lalu, kamu bercerita panjang lebar atas niatmu. Juga atas rencanamu pulang ke rumah di pulau dewata. Kau menggelar acara lamaran, kamu mempersiapkan semuanya.

Ya, kau akan menikah.


Terkejut aku saat itu. Lebih lagi, kau menyebutkan tanggal baik itu. 14 April, ulang tahunku. Tepat sekali. Kau meminta pendapatku? Aku hanya bilang, "itu memang hari baik, karena itu hari ulang tahunku", sambil menyimpulkan sebuah senyuman.

"Doakan semuanya lancar, ya!", pintamu saat itu. Hai, pria! Tenanglah, semua akan berjalan baik-baik saja, aku selalu mendoakanmu..

Tinggal dua minggu lagi, semua masih dalam proses. Kau, saudaraku, tetap semangat ya menyiapkan semuanya. Tawaranmu padaku untuk menjadi pendamping (pengiring) mu, aku terima. Inilah saatnya, semua penantian telah usai.


Read More

Monday, March 12, 2012

Nyeri nyeri nyeri...

Semua terkuras habis. Padahal baru hari kedua, tapi efeknya sudah luar biasa dahsyat. Fyuuh~ Setiap kali menstruasi datang, gue adalah tipikal orang yang jarang marah, tapi cenderung lebih perasa dari biasanya. Dan, menstruasi kali ini efeknya berat. Persendian pinggang ke bawah rasanya linu banget, serasa pengen diputusin. Kepala gue puyeng parah, gak berhenti dari hari pertama kemarin. Bagian kiri kepala gue rasanya pengen gue antukin ke tembok, migrain parah. Belum lagi, perut gue. Kram banget. Zzzzzz. Gigi juga ngilu. Hoossh~

Ini baru hari kedua. Hari selanjutnya?

Apa ini karena siklus haid gue yang gak teratur ya? Karena siklus haid gue itu 3 bulan sekali..
Read More

Monday, February 13, 2012

Senja itu hilang (dan akan datang kembali)

Tiga hari yang lalu, tepatnya hari Jumat petang, ketika gue keluar dari kosan menuju pintu Kukel, pelangi muncul dengan indahnya. What a sight! Stelah sekian lama gue gak pernah ngeliat pelangi di Depok. Seingat gue, terakhir kali gue ngeliat pelangi di Depok adalah setahun yang lalu, di jalanan Margonda, ketika gue berdiri di depan Mares. Itu! Terus, kemarin ngeliat lagi. Gak abis-abisnya gue cengar-cengir sendiri. Ih, cantik banget pelanginya, coba ngeliatnya berdua sama orang yang tersayang.  Hehehe

Ini sama kayak postingan beberapa waktu lalu, yang bilang kalau akan ada saatnya kok pelangi itu muncul. Ya, literally terbukti lah. Meskipun maksud gue bukan itu, tapi gue tahu itu pertanda buat cerita gue yang itu. Apa sih, Vel? Mulai deh, abege. Hahahaha

Senja Jumat petang kemarin itu indah, Orennya langit bikin gue cekikikan sendiri saking bahagianya. Kalau mau ikutin hastag #bahagiaitusederhana, gue mau ngetuit gini #bahagiaitusederhana ketika gue ngeliat pelangi bersama orang yang tersayang
Read More

Thursday, February 09, 2012

Untukmu, yang tak terucap..

Halo teman,

Apa kabarmu hari ini? Baik-baik saja kah? Agak rancu sebenarnya aku menanyakan ini padamu, padahal baru saja beberapa jam yang lalu kita bertemu. :)
Lalu, apa yang kamu lakukan setelah perpisahan kita tadi pagi? Ah, teman! Kenapa aku cenderung tidak mengenalmu. Kenapa belakangan ini rasa tentangmu makin mencuat ke permukaan. Tentang rasa khawatirku. Kamu merasakannya, tidak?

Tentang pertanyaanku yang sempat kuceritakan padamu itu loh, ingat? Ku yakin kau masih ingat. Iya, tentang itu, yang masih terus membelengguku. Aku menghargai jawaban dan penjelasanmu waktu itu, aku juga mencoba untuk percaya kok. Tapi, kadang aku dihadapkan dengan pernyataan "tidak-ada-yang-tidak-mungkin".
Kamu tahu, nggak? Tentang hal itu, aku terus-terusan berusaha untuk selalu berpikir positif. Untuk setiap tingkah anehmu, aku mencoba untuk mengasumsikan bahwa itu adalah hal lain, bukan hal yang ku khawatirkan. Teman, kamu harus tahu ini, ternyata mencoba untuk berpikir positif itu juga menguras tenaga loh, sampai kadang aku berpikir 'Ah, syit! Capek gue lama-lama'.

Begitulah. Oh ya, aku mau cerita sedikit tentang keraguanku. Mungkin yang kamu tahu, rasa ini belum lama muncul. Tapi, jauh dari itu, aku sebenarnya sudah menyimpan pertanyaan ini sejak lama, sejak setahun yang lalu. Memang, baru-baru ini saja aku mempertanyakannya kepadamu. Hehehhe, maafkan aku ya yang terlalu curiga terhadapmu.

Kamu tidak mau menanyakan kenapa aku begitu seragu ini? Oke, baiklah! Tanya atau tidak, aku akan memberikan alasannya.

Pertama, aku tidak mau kamu sama seperti punyaku yang terdahulu, yang kamu sendiri sudah tahu siapa. Kedua, harusnya kamu sudah paham betul tentang aku, yang tidak suka kepura-puraan, yang jauh lebih menghargai kejujuran meskipun kadang tidak selalu menyenangkan. Seharusnya kamu sudah paham betul bagaimana aku. Ketiga, aku gak mau kamu seperti itu. Aku sungguh akan sangat menyesali diriku kalau kamu seperti itu. Keempat, kalaupun memang firasatku benar, tolong katakan kepadaku. ;)

Sehingga untuk keempat alasan itu, aku terus berusaha menjagamu. Apa kamu sadar akan hal itu? Bukan karena hal lain, yang kamu pikirkan. Oke, mari kita sejenak menghitung kebersamaan kita. Satu bulan? Dua bulan? Satu tahun? Dua tahun?Hei, sudah hampir empat tahun loh. Tapi, di tahun keempat ini, semua tentangmu menjadi abu-abu. Aku suka warna abu-abu, tapi tidak dengan ini. Lebih baik kita perjelas apa warna kita.
Yang aneh adalah, setiap aku bersamamu, raguku mereda. Aduh, teman. Apa sih ini sebenarnya? Kalau saja otakku dibedah, kamu harus lihat semua skema yang ada di dalamnya. Otak ini rapih menyimpan semua skema itu, tapi ragaku kesulitan untuk mengungkapkan dan menerapkannya.

Aku sendiri pun tidak tahu sesungguhnya apakah aku seorang ekstrovert atau introvert. Setahuku, aku tidak mudah menceritakan masalahku secara gamblang kepada semua orang. Tetapi aku, adalah seorang yang selalu mendengar semua keluh yang lain, termasuk kamu. Aku tahu, aku pasti menyebalkan ya? Memang! Aku, seorang yang keras kepala, yang hanya mampu memberikan solusi untuk semua masalahmu, tapi aku sendiri belum (aku menghindari kata tidak) mampu melakukan solusi itu untukku sendiri. Ya, seperti katamu.

Tapi, teman. Kamu sadar? Kamu juga begitu menyebalkan, sehingga tidak jarang aku marah padamu. Ayo dong, berterus-teranglah padaku. Nanti, aku juga akan berterus terang kepadamu. Bagaimana?

Oke, baiklah. Aku mengalah. Aku tidak bisa terus-terusan menuntutmu seperti ini, biar aku yang memulai. Aku akan hentikan ini. Akan akan mencoba untuk tidak mempedulikan segalanya. Aku abaikan dirimu, aku abaikan semua tentangmu. Aku akan mencoba mengacuhkanmu, sehingga dengan begitu aku tidak perlu se-khawatir itu tentangmu. Bagaimana?

Aku memang tidak yakin bisa melakukannya sih, tapi tak ada salahnya jika aku mencoba. Kamu mau membantuku?


Bawa aku dalam doamu ya.. :)










yang mencoba melepaskanmu,
aku.
Read More

Wednesday, February 08, 2012

In the middle of a thing named 'stress' (part II)

Yes, i am here.

Since last night, i am getting worse, ergh! Sore throat, little cough, nausea, and fever, that's all what i felt all day long. Gatau nih, gue mau sakit kayaknya. Padahal hari Sabtu udah TC, dengan kondisi gue yang kaya gini, dan tuntutan TC yang kenceng banget, gue takutnya gue collapsed.
Gue masih dikantor saat gue posting ini. Yap! Beberapa minggu ini gue lembur, dan it's my stress-maker. Bukan karena kerjaannya, somehow atasanlah yang bikin semua jadi rumit. Gue ngomong gini bukan bermaksud untuk menyalahkan atasan, tapi lebih ke pribadi (perilaku) masing-masing orang dalam menanggapi masalah. Ternyata, tingginya jabatan belum cukup mampu memastikan bahwa seseorang bisa berpikir secara futuristik. Saya, yang memang belum ada apa-apanya, ternyata tidak cukup dibantu dengan adanya atasan. So, what is boss' function, anyway?

Beliau bilang begini: "Saya tidak akan mengajari kamu, saya gak akan nuntun kamu, ngedikte kamu bla bla bla.."
As time goes by, beliau memang tidak pernah mengajari saya, tapi tuntutan yang ditujukan kepada saya terlampau banyak. Saya merasa ada yang salah disini, kian lama, saya merasa beliau hanya memikirkan apa yang 'sreg' menurutnya, tanpa memikirkan apakah yang 'sreg' dimatanya, juga 'sreg' di pikiran orang banyak. Kadang saya berpikir, kalau semua saya yang mengerjakan, lalu apa tugasnya? Sehingga, pada akhirnya, saya berprasangka negatif kepada beliau. Seharusnya, beliau bisa dong mentransfer apa yang dia ingini, harusnya dia bisa ngajarin saya, sesuai dengan jabatannya, bukannya justru malah melimpahkan semua tanggung jawab seorang atasan. Saya digaji untuk mengerjakan pekerjaan saya sebagai staf, bukan untuk mengerjakan semua tanggung jawab Bapak, kecuali kalau saya boss-nya. Bagaimana?


Mungkin saya yang paling tangguh, karena sebelumnya tidak ada satupun karyawan yang se-tough saya, itu opini karyawan yang lain. Sayapun sebenarnya lama-lama muak dengan ini semua. Saya perfeksionis, dan egois. Saya akan melakukan apa yang menurut saya benar, tapi bukan berarti saya tidak bisa diatur. Tapi kenapa yah, i am so over you, hey boss. You're not my all. Lo cuma atasan gue, yang sejak dulu hingga sekarang nampaknya belum sepenuhnya memahami bagaimana cara memperlakukan dan menghargai pekerjaan staff dengan baik. Saya, sebagai manusia biasa, mengkomparasikan para atasan di divisi saya, dan damn! he's the worst. I am so sorry, but everyone knows it, trust me!



So, what should i do then to heal this stress? God damn it!
Read More

Tuesday, February 07, 2012

Gara-gara Nori

Tadi pagi, gue berangkat dari rumah ke kantor jam setengah 9, setelah sebelumnya gue sama mama makan soto koya di samping boedoet. Abis makan itu, beuuh! Full banget perut gue, dan berasumsi gak akan makan siang. Bener aja dong, pas jam 12 tadi diajakin turun sama anak-anak, gue nolak karena udah kenyang. Dan, gue pun tidur. Bangun tidur, tadaaaa! Udah setengah 2, dan ih kepala gue puyeng banget, lidah pahit pula! Langsung lah gue melipir ke convinience store gedung sebelah, dan jajan.

Tuhkaaan, gue beli nori aja gitu. Mahal kan, mahal kaaan. :(
Kan niatnya mau ngirit. Abis aja 30 ribu disini, buat beli nori, susu, sama roti. Tau gitu, mendingan tadi gue ke kantin belakang, makan gado-gado. Huuuf. Kenapa nori mahal sik?

Hahahha. Yaudalah gapapa. Tapi, kasian kan gue. Duit tinggal 50rb untuk sampe Jum'at. Gue udah janji sama diri gue untuk gak narik ATM minggu ini. Huhuhuhu.



3 hari ke depan, puasa makan yooooook! :D
Read More

Monday, December 26, 2011

Mari berlari

Hari ini, tanggal 26 Desember 2011, di kedai kopi ini. (Ah, opener yang galau)

Pagi ini aku membuka mata, dan rasa sepi itu langsung terasa, Aku harus bertahan. Melewatkan kebersamaan keluarga, aku sendiri. Mereka lagi apa ya disana? itu yang selalu di benakku, Dan, mungkin itu yang selalu di benak mereka ketika aku jauh dari mereka. Aku orang yang mudah merindu.. Setiap aku pergi ke tempat yang jauh, bahkan menyeberangi lautan, terbang ke negeri lain, atau bahkan pernah hidup di benua lain untuk waktu yang tidak singkat, itu rasanya seperti ada yang mengikat di hati ini. Terasa sesak. Ternyata teknologi tidak bisa sepenuhnya diandalkan. Hm, baiklah.

Pagi ini pula, aku kecewa. Ya, kekecewaanku belakangan ini bersumber pada masalah yang sama, yang lambat laun malas aku bicarakan. Kembali pada dua tahun yang lalu, rasanya sama. Ketika kau membiarkan aku menangis dikamarmu. Ketika kamu membelaku, dan berkata bahwa kamu tidak akan membiarkanku terus-terusan menahan rasa sakit itu, Ketika kamu secara tidak sengaja membuatku melupakan rasa sakitku. Hahaha, ironi. 

Pagi ini pula, sebuah morning call membuatku jauh lebih tenang. Suara dari seberang sana selalu membuatku tersenyum. Kamu baik, pikirku. Kamu menepati janjimu untuk menemuiku. Bahkan sempat kamu menghampiriku dan memberiku kejutan. Jauh-jauh kamu datang ke Depok, tanpa tahu jalan. Kamu tersasar, itu lucu, Bayangkan, tiga setengah jam waktu yang dibutuhkan hanya untuk perjalanan Taman Mini- Depok. "Ada orang Bali nekat ke Depok, sok ngasih surprise tapi kesasar", kataku malam itu. Kamu hanya tertawa. Katamu rindu padaku, aku juga, Tapi, aku tidak mau terlihat bodoh dihadapanmu. Terlebih, temanmu selalu memperingatkanku untuk tidak terlalu dekat denganmu. Kenapa sih? Kamu player, katanya. Ketika kuceritakan itu padamu, kamu hanya tersenyum dan diam.
Vel, Ari itu baik. Mungkin dia gamau kamu dekat sama aku karena ada hal lain. Tapi, kamu harus tahu, aku bukan player. Aku cuma mau cari yang terbaik. Bukan salahku kan kalau banyak yang suka sama aku?
Katamu begitu. Penjelasan yang diplomatis Ya, salahnya adalah kenapa terlalu banyak orang yang suka sama kamu. Kenapa kamu terlalu memesona mereka, padahal menurutku kamu biasa saja. Oke, aku bohong. Kamu memang punya kelebihan mudah membuat wanita terpikat, dan kamu sadar itu. Tapi aku nggak mudah tertipu. :p
Sehingga, ketika kita membuat janji untuk bersama, hanya satu hal yang aku pertanyakan. Mampukah aku bertahan? Mampukah kamu bertahan?
LDR, katamu. Bukan suatu hal yang mudah. Terlebih kamu belum pernah mengalaminya. Aku pernah mencobanya, namun gagal. Oh ya, pernah kusampaikan padamu kalau aku adalah pencemburu. Tapi, kamu, entah kenapa seperti berusaha menunjukkan padaku bahwa kamu tidak akan berulah aneh. Ah, mana kutahu. Bali itu bebas, bung. Ya kan? Bulan depan kamu akan kembali lagi buatku, katamu malam itu. Awas kalau bohong! Hahaha. Sesungguhnya aku hanya anggap itu lelucon sih. Kehadiranmu cuma akan kujadikan kejutan buatku nanti. Tapi, lepas dari itu, hidupku harus tetap berjalan toh?
Terima kasih, bli. Kebersamaan beberapa hari ini. Hadiahmu. Semuanya manis. Setidaknya sedikit mengobatiku lah. :)







Lepas dari itu. Gue tahu gue gak bisa berharap banyak untuk ketiga aspek diatas. Better ngerjain tugas dulu lah, udah mau UAS. Abis itu, ngeberesin MBiC. Juga kerjaan kantor yang kunjung kelar. DIpikir-pikir lagi, sesunguhnya dan seharusnya gue gak boleh punya waktu untuk galau-galau macam abege labil gitu lah. Many things to do, right? You have to be focused on them. :)


Read More

Sunday, December 25, 2011

Kamu, ku kecewa!

Pernah kutanyakan ini padanya. Meski awalnya dengan keraguan hati dan kegugupan penuh aku berbicara, pertanyaan itu terucap juga. Dua kali kutanyakan itu pada orang yang berbeda. Jawaban mereka sama, tidak ada apa-apa. Ku kecewa. Sedih, katakanlah begitu. Tidak salah kalau seringkali kusebut kalian sama serupa. Ketika aku kecewa pada yang pertama, kuharap kau, yang kedua, yang sebenarnya sejak lama, bisa memberikanku suasana yang berbeda. And, yes you made it, for almost half and a year. Hingga kecewa itu hilang. Kini kecewaku benar-benar hilang, tapi kau memberikanku kejutan besar. Bagaimana aku menanggapi ini? Kau lebih dari padanya mengecewakanku. Aku sedih, tentunya.
Kata-kata palsu yang kau ucapkan. Kata maaf yang keluar dari mulutmu, aku tahu tidak berarti apa-apa. Kau tidak benar-benar memikirkan apa yang kurasa. Kamu tahu? Kamu membuatku kembali pada kondisi dua tahun lalu. Dengan situasi yang berbeda, rasa sakit ini sama. Kalau dulu kamu penawarku, tapi sekarang kamu sumber rasa sakitku. Semua yang ada diotakku saat ini hanyalah, kesalahanku bersamamu. Itu pilihanmu, memang. Aku percaya selalu ada pelangi sehabis hujan. Walaupun samar, aku yakin guratan warna-warna indah itu muncul. Mungkin butuh waktu.

Kamu, apakah peduli tentangku saat ini? Aku, apakah yang harus aku lakukan? Aku takut ini. Aku sudah memprediksikan ini. Aku menyerah, aku jatuh. Jatuh ke hati yang salah, hanya membuatmu merasa kecewa. Kini, aku harus segera menata sebelum semua berantakan kemana-mana.





Sukses! Gue galau! -____-
Read More

Thursday, December 22, 2011

Kamu bohong, aku sudah tak peduli.

Begini,

Sudah berapa kali, bahkan hingga tak tahu ini sudah kali keberapa. Saya kesal. Dengan seseorang. Beberapa waktu yang lalu, gue ngabarin dia dan mengajak dia untuk bersama-sama nonton sebuah acara. Awalnya gue sms sore-sore yang isinya nanyain gimana jadi gak kita entar malem. Oke, gak ada balasan. Malemnya gue ketemu dia. Hingga akhirnya, meskipun udah agak males, karena feeling gue menolak untuk ngajakin dia lagi setelah pesan yang gue layangkan gak dibalas. Tapi akhirnya mulut gue ngomong juga, gimana yuk jalan malam ini. Dia bilang apa coba?

"Yah, ujan nih. Udah malam pula. Udahlah balik ke kosan aja. Nontonnya nanti aja, gausah sekarang. Pulang sekarang yuk."

Tumben kaan. Buru-buru ngajak pulang, biasanya juga ngeboyong gue kemana dulu untuk sekedar ngobrol atau nyari makan atau apalah. Nah, feeling gue tepat kan! Akhirnya, pasrah lah gue dianter ke kosan. Eh, bener banget, dia langsung nganterin gue ke kosan tanpa kemana-mana dulu. Yaudah, tapi di perjalanan menuju kosan, otak gue mikir untuk jalan sendiri. Nekat! Tapi mikir lagi, akhirnya gue memutuskan untuk ganti baju dulu baru cabut.

Selang sejaman, ada yang ngabarin gue aja gitu. Eh, si X lagi disini, kok lo gak bareng dia? Dia baru dateng sama si Y.
MATI LU!

Coba gue nekat, dan berangkat ke tempat itu waktu itu juga. Terus ketemu elo deh disana. Hahahaha!


Persetan deh sekarang gue sama elo. Kesel gue. Huh hah huh hah! Ketek abis gak sih lo tadi, basi lu! Makan tuh ujan. Graawwrr! Gak emosi kok ini, cuma kecewa aja. Hih! Mau bohong? Jangan sama gue deh, sori sori jek gak mempan cuy! My intuition leads! Gak usah lu pake acara bohong-bohongan sama gue. Apa susahnya sih jujur?  kayanya jutaan kali gue bilang deh, gue jauh lebih menghargai sebuah kejujuran daripada apapun. Gila lu! Lu kenapa sih? Lu kenapa? Ha? Kenapa lu?
Lu beda coy sekarang. Gue gak kenal elu. Males banget, palsu banget lu sekarang. Gue pikir kita bisa jalan jujur. Pret lah! Sama aja lu kaya temen gue yang dulu, yang sempet jadi trending topic di setiap pembicaraan kita. Udah lama emang gue ngerasain kalo elo sama aja kaya dia. Ah, basi lah!
Padahal yah padahal.. errr~ gajadilah gue ngomong. Gue gak kenal lu lagi, tjoy!
Beda lu! Palsu!


Buktiin ke gue kalo emang lu gak kaya gitu!


Oke. Selesai lah sudah curahan ini. Marah-marah mulu deh. Sering banget lu ngomong gitu ke gue. Hahahaha. Sori jek, gue udah terlalu apatis sekarang. Skeptis pula. Pergi aja lu jauh-jauh, gausah pake nanya kenapa gue sekarang ketus banget. Ngaca aja sana. Bilang kalo gapunya kaca, biar gue pinjemin!





Ada yang salah kayanya sama hubungan kita!
Read More

Monday, December 19, 2011

A week before Xmas!

A week before Christmas. It shud be great. But, for me, it's not great at all. Untuk pertama kalinya dalam hidup nanti gue akan merayakan Natal tidak bersama keluarga gue, bahkan keluarga besar gue. Semua (baca: es e em u a) pada pulang ke kampung halaman. T.T
Gue sendirian disini, sampe tahun baru nanti. Aaaaa~ kemana gue berlayar? Malam yang paling miris adalah merayakan malam Natal sendirian. Galau segalau-galaunya ini mah. Enak sih, bisa tenang, tapi, saya butuh berbagi bersama keluarga. Terlebih di tahun ini, gue gak aktif di organisasi gerejawi. Beberapa kali gue skipped latihan Natal, latihan koor, hingga akhirnya gue memutuskan untuk gak ikutan koor. Lengkap kap kap! Hup! Begini deh a week before Christmas gue.

Oke. A week before Christmas, gue berharap di Natal nanti ada yang bisa nemenin gue seharian ngerayain Natal ini. Mungkin si ganteng karyawan bank itu mau, mungkin si manajer duit itu mau jugak. Soalnya kemarin pada minta diajakin ngerayain Natal bareng. Alhamdulillah yah. Hahaha. Gue ajakin ke rumah, foto-foto sama pohon Natal yang tingginya ngelebihin gue. Abis itu terserah deh, yang penting ramai suasana hati gembira. :D

Setelah ini, baru deh kita ngomongin a week before new year gue.


Yah, so far, menulis ini cukup menghibur gue. T.T
Read More

Tuesday, November 22, 2011

NAC

19 November 2011

NAC kali ini, berbeda sangat. Awalnya agak ragu untuk mengiyakan tawaran NAC ini dari kR. Dengan berbagai macam pertimbangan, akhirnya sepakatlah kita untuk join NAC ini di Rempoa. Secara keseluruhan, secara personal, i feel this totally different. Feel yang gue dapet di NAC-NAC sebelumnya, tidak sama. Tetapi, satu hal yang selalu hadir, kenangan di NAC-NAC yang lalu. Di setiap part dalam NAC ini, gue masih (dan akan) selalu ingat kejadian di tahun-tahun sebelumnya, cuma orangnya saja yang berbeda. Mengharu biru, ketika masuk modul pujian dan penghargaan. Bersuka cita (dan gue selalu terharu) ketika masuk part peluk-pelukan dan semua 'flowering words' kaya 'i love you', 'you're so special', 'i need you', itu menguatkan gue, dan totally describes what i really feel for them.

Disini, kelihatan banget kalau gue adalah seorang yang kino. Sangat kino dan sangat auditory. Pelukan selalu menghangatkan gue, menguatkan gue, menenangkan gue, apalagi kalau dipeluk sama orang-orang yang gue pengenin (loh? haha). 

Yang berbeda, di NAC kali ini, gue gabisa duduk jadi peserta. Gue adalah orang belakang layar, gue supporting system mereka. Gue hanya bisa berdiri di belakang memantau mereka. Dan meeen, sungguh ya, gue sayang sama mereka. Gue bangga sama mereka. Gue bahagia ngeliat mereka ketawa lepas kaya gitu, ditengah penyiksaan yang belum akan berakhir. Hahaha. Kalau gak ada kemarin, gue juga gak bakal sebegitu 'ngeh' nya kali ya kalau gue sayang mereka. Gue kangen masa lalu. Pas Rama maju ke depan, saying his thanks, itu bikin gue kangen. TRUMPET 1 2010. Aaaaa~ (and naturally my tears falling down right now). Gue kangen. Dimas, Rama, Taufik, Icha, Aya. Dari 6 rangers, cuma kesisa 4 di NAC kali ini. Tahun ini, gue gapunya section, gabisa foto per section. Hehehhe. Gue seneng, orang-orang ini bertahan. Orang-orang udah jadi 'orang'. Taufik, si karbitan 2008 yang dari awal masuk MBUI, udah punya cita-cita mau jadi FC, kesampaian juga, meskipun jadi BF. Rama, si bencong pecicilan, yang superb, yang emosinya gak kekontrol waktu GPMB 2010, marah-marah, tapi gue sayang dia. Dimas, si yang-mudah-jatuh-cinta, yang sering curhat tentang apapun, gue tetep sayang dia, dan gue selalu pesen ke dia untuk selalu ngejaga cewek yang dia sayang. Aya, part of my bestbackpackfriends, yang akhirnya berhasil terbujuk untuk gabung di trumpet 1 2010, tolol barengan. Icha, si pemanggil-gue-Ukauka, kehabisan kata deh gue sama dia, temen main trumpet bareng dari 2007, dari mulai nyebelin abis, sampe jadi orang yang pengertian, very good progress (like others said). GUE KANGEN TRUMPET 1 2010. Sebenernya kangennya udah terobati pas event Parade Senja 2010 kemarin, tapi gara-gara NAC ini, gue jadi kangen lagi. Hahaha. :((
dari kiri : Dimas, Aya, Rama, Saya, Taufiq

Lepas dari itu, gue bangga sama Pengurus 2011-2012. Gue, yang dari awal NAC udah mikirin ini. Gue bikin salah satu orang jadi gak bisa ikut hadir bersama-sama di NAC kali ini. Gak enak rasanya, di pundak gue seperti ada rasa bersalah, ada rasa berat. Gue semacam menghancurkan impian seseorang. Tapi, gue tahu ada rencana di balik ini semua. Mungkin sampai saat ini gak ada yang tahu, kalau selalu ada rasa sedih dalam hati gue untuk hal ini. Tapi gue bangga, ada pengurus yang baik disini. Gue mungkin gabisa maju ke depan waktu session pujian penghargaan, tapi bukan berarti gue gabisa nyampein itu. Gue mau sampein itu, ya lewat sini. :)

Gue seneng, punya pengurus yang baik dan membantu, Tepat di NAC kemarin, adalah sebulanan gue jadi Project Officer. Many things has done. Kalian ada di samping gue. Terima kasih untuk itu. Terima kasih dan mohon maaf karena kehadiran gue di tengah-tengah kalian, di tengah setumpuk kerjaan yang gue delegasikan ke kalian. Bukan buat gue, tapi buat unit kita. Bukan kebanggaan gue, tapi kebanggan MBUI. I really love you all, i can't find very good words to describe it. 

Gue sayang sama Aji, yang selalu ngedukung gue, mulai dari saat-saat waktu gue masih megang teknis MBIC. Lebih dari itu, gue kehabisan kata-kata untuk ini orang. Juga Tepi, entah apa yang bisa gue bilang untuk Ketua ini. Semua kestressan dia, semua penat dia, semua cerita-cerita selama jadi ketua, semua perjuangan dia waktu dilobi jadi ketua sampai persiapan sana-sini, hingga akhirnya terpilih jadi ketua, boleh dibilang gue selalu ada di dekat dia. Gue membantu dia, sampai akhirnya gue sama dia berada di satu kepengurusan saat ini. Gue juga sayang banget sama Jodi, orang yang bisa dibilang paling dekat sama gue (selain Aji dan Tepi). Gue sayang orang ini, yang awalnya gue nyemangatin dia untuk pekerjaan, sekarang ternyata gue juga perlu disemangatin. Hehehe. Gue pernah bilang begini sama dia, ketika pertama kalinya (gue sebagai pengurus) kita ngobrolin tentang MBiC:
Agak aneh ya sekarang, topik bahasannya jadi bertambah satu lagi. Gak cuma life, love, campus, yang kita omongin, tapi sekarang juga ngomongin kerjaan.
Itu semua berkesinambungan kok, katanya. Bener dia bilang, berkesinambungan. Terima kasih ya untuk semuanya, meskipun pernah bikin gue gondok setengah mati, tapi juga bikin gue seneng setengah mati. Buat Galih, orang yang pernah mau gue tinggalin di tengah jalan, tapi akhirnya malah jalan bareng gue. Hahaha. Si playboy-cap-botol ini, orang yang selalu gue repotin, orang yang ngajak gue nangis bareng, orang yang ngebantu gue. Gue sayang elo, Gal. Gue juga sayang Yanu, Diah, Pipit, Ayu, Naqib, Diana, Agnes, yang selalu gue repotin, selalu gue kerjain dengan tugas-tugas yang menumpuk. Tapi lebih dari itu, orang-orang ini adalah orang-orang gila yang juga gak jarang bikin gue ketawa. Terima kasih ya, Yanu, untuk mau dengerin dan menerima semua kebawelan gue kalo udah ngomongin kerjaan. Terima kasih Diah, untuk tetep mau ngerjain semua yang gue minta meskipun gue sering mepet ngasihnya. Untuk Pipit, superb deh, jagoan neon, ayo kita semangat 'cari-muka' kesana-kesini, semangat juga kalau disuruh foto bareng Pak Bambang :p. Buat Ayu, terima kasih ya, jagoan perlap, yang akhirnya jadi teman sekosan-yang-kamarnya-sampingan. Terima kasih untuk Naqib, atas semua kecanggihan lo yang sukses bikin gue ketawa, gue seneng kalo sharing sama lo :). Untuk Diana dan Agnes, satu paket gue kirimin ucapan terima kasih, i need you!


Committee of MBUI 2011-2012
Read More

Monday, October 10, 2011

kecewa sama diri sendiri itu bukan hal yang oke!

.......................
..........................................................

gue bingung harus bilang apa. memutuskan sesuatu itu bukan bakat gue. tapi, melakukan sesuatu yang gue inginkan, meskipun kadang gak ada persetujuan, itu keahlian gue. mungkin ini terkesan gue gak peduli sama sekitar. mungkin gue terkesan sombong, gak butuh siapa-siapa, atau apalah. gue juga benci hal ini.

..................
..........
......
..
....................
.
:(

gue egois yah..
........
selamat vel, ternyata elo gak berubah!
.....
.....
selalu bikin orang kecewa, mungkin itu bakat gue!
.

udah 2011 padahal, gak ada perubahan?, kata nyokap gue.


udah mahasiswa, masih kaya anak kecil!, itu kata bokap gue.

mereka aja bilang begitu sama gue, apalagi Tuhan?

...
MAAF YA, TUHAAAAN!
Read More
Written by tvelofas. Powered by Blogger.

© Je Suis Moi ♥♥, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena