Je Suis Moi ♥♥

For what i feel, what i see, what i hear, what i dream of, what i used to be, what i would be. Here i am. Just take a deep breath, then read!

Tuesday, August 11, 2015

Ruang Untuk Perbaikan



Memperbaiki itu gak gampang. Gak segampang mendapatkan. Itu makanya ada kalimat yang berbunyi :

to maintain is hard; to achieve is easy

Dan saat ini saya pun merasakannya. Berusaha keras mengukuhkan diri bahwa saya harus sunguh-sunguh sepenuh hati. Beranggapan bahwa bisa saja ini kali terakhir saya punya kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki diri. Banyak hal yang harus diperbaiki juga ditingkatkan. Banyak hal yang harus digapai lagi karena sudah lepas dari genggaman. Kali ini, tidak boleh lagi ada kata gagal.

Saya memang seringkali memberikan toleransi, meskipun itu kecil, kepada kebutuhan-kebutuhan saya. Kebutuhan materi, dan kebutuhan psikis lainnya yang mungkin hampir semua orang juga merasakannya. Dan seringkali pada akhirnya saya tidak mendapatkan itu secara penuh. Akhirnya ini berdampak pada pencapaian saya. Disitulah, saya gagal. Meskipun bagi sebagian orang, apa yang saya raih sekarang adalah sudah yang terbaik. Ya, kembali lagi, parameter masing-masing berbeda.

Biasanya saya selalu berpikiran oh-yaudah-besok-jangan-gitu-lagi, tapi lama-lama saya jadi suka kehilangan kendali. Ini adalah kegagalan ganda. Memberikan ruang untuk kesalahan itu adalah hal yang sangat fatal, bagi saya. Sebisa mungkin saya hindari, tetapi kadang keadaaan menuntut lain. Saya harap tidak untuk kali ini. Saya yakin saya bisa. Selalu ada ruang untuk perbaikan, bukan begitu? :)







Read More

Thursday, July 23, 2015

Perihal bersyukur

KAda yang udah capek berdesak-desakan di kereta, tapi tetap telat. Ada.
Ada yang udah bangun pagi-pagi, tapi tetap ketinggalan kereta. Ada.
Ada yang udah menyisihkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli sesuatu, lalu uangnya hilang sebelum dipergunakan. Ada.
Ada yang setiap hari diet, namun jarum timbangan tak kunjung bergerak turun. Ada.
Ada yang mengendarai mobil ke kantor, sementara yang lainnya hanya punya motor, atau bahkan naik angkutan umum. Ada.
Ada yang dengan sangat mudah akrab dengan lingkungan baru, namun ada yang butuh lebih dari dua bulanuntuk beradaptasi. Ada.
Ada yang selalu pulang on-time, ada yang selalu lembur sampai jam 9 setiap harinya. Ada.
Ada yang jadi atlet, tapi belum pernah menjuarai lomba apapun.


Berapa banyak dari antara kita yang mengeluhkan kondisi-kondisi tersebut? Berapa banyak yang diam? Dan berapa banyak yang memilih untuk bersyukur? 
Berapa banyak?

Berapa banyak yang ber-'grrr' ria? Berapa banyak yang cuma bisa 'fyuuuh-fyuuh'?

Saya juga gitu. Saya terkadang lupa. Sebagian lagi ingat, tapi khilaf.

Well, we are human, but it does not mean we have right to do wrong. 

Ah, ini bicara sungguh sangat gampang.










Ps. : Saya berusaha sebaik mungkin mengubah semua energi negatif yang sedang saya rasakan ini menjadi tulisan yang enak dibaca. Ah sudahlah, lebih baik jangan baca tulisan ini.



Read More

Unseen Battle

"There is no any battle, but everyone seems trying to seize the medal."

Saya yakin tidak ada satupun orang yang mau kalah, meskipun itu mengalah. Saya sangat yakin semua orang pasti memiliki visi yang sama, menjadi yang terdepan. Sekali lagi, meskipun itu mengalah. Tidak ada orang yang ingin diremehkan. Dan diatas semua itu, tidak ada orang yang ingin menerima bahwa keberadaannya tidak diakui, kecuali dia mata-mata. Menjadi unseen object mematahkan segalanya. Bahwa tidak akan pernah ada status pemenang atau pecundang pada dirinya, tidak ada remehan, ledekan, atau bahkan pujian.

Ada satu hal yang mungkin harus diingat baik-baik : Hidup ini sifatnya kompetitif. Selalu ada pertarungan yang tidak terlihat. Selalu ada kesempatan untuk menang. Begitupun kekalahan, banyak peluangnya. Jangan pernah ada kata mengalah, karena kamu bisa jadi bukan pemenang sesungguhnya. Usaha. Raih medali itu.


Shortcut selalu menjadi opsi yang menyenangkan. Tapi jangan lakukan kalau belum siap resikonya.


Mari berjuang!


Read More

Saturday, June 06, 2015

Rutinitas mengubah rutinitas

Hampir semua orang di belahan dunia ini pasti memiliki aktivitas yang dilakukan berulang dalam jangka waktu teratur. Misalnya, bangun di jam 5 subuh, atau ngopi sambil baca koran sebelum beraktivitas, tidur sebelum jam 11 malam, atau hal lainnya yang memang kita lakukan di hampir setiap harinya. Hal tersebut, atau mungkin hal-hal kecil lain yang kita lakukan secara berulang bahka secara autopilot hampir bekerja dibawah alam sadar kita, telah mendesain (atau didesain?) sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah rutinitas dalam keseharian kita. Masih segar dalam ingatan saya bagaimana dulu ayah saya mendidik saya untuk bisa bersikap disiplin, salah satunya dengan mengajak saya menyusun seluruh agenda saya dan menerapkannya seketat mungkin. Beliau meminta saya untuk membuat sendiri jadwal saya setiap harinya mulai pukul 00.00-24.00, dan mewajibkan saya menaati jadwal itu sedisiplin mungkin. Disitu saya berpikir kenapa tidak beliau buatkan saja sendiri, lalu saya tinggal menjalankannya? Bukankah lebih mudah untuk memerintahkan saya melakukan hal tersebut?

But hey, the easy way isn't always the better way. Saya sadar, beliau sedang membantu saya membangun rutinitas saya sendiri. Beliau tidak pernah secara langsung menyuruh saya untuk selalu bangun jam 5 pagi, atau tidur siang di pukul 2, atau bermain di pukul 4, bahkan tidak pernah menyuruh saya untuk belajar sebegitu giatnya berjam-jam tiap harinya. Saya sendirilah yang membangun agenda itu. Bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat sekolah, tidur siang, main, nonton tv, belajar, sampai tidur lagi. Itulah pola hidup saya, pada saat itu. tetapi saya diajar untuk menjadi kreatif dan fleksibel, dengan memasukkan sejumlah kelas kursus dalam agenda saya. 

Apakah sekarang masih sama? Ya tentunya tidak dong. Apa yang menjadi rutinitas kita di 1 atau 3 atau 10 tahun yang lalu, hampir dapat dipastikan tidak akan sama dengan saat ini. 

The rhythm you make keeps you balance. But as the life's spinning, you are required to move.
Kalau dulu hidup sesimpel itu, maka tidak untuk sekarang. Bertambahnya keinginan dan pengetahuan, membuat perbendaharaan aktivitas kita semakin beragam. Dulu waktu masih berseragam sekolah, kegitan saya tidak jauh dari belajar, bermain, ekstrakurikuler, les dan kompetisi. Itu saja terus berulang. Tetapi ketika memasuki bangku perkuliahan, dimana kebebasan adalah mutlak adanya, tidak ada lagi kewajiban menyiapkan setelan pakaian seragam setiap harinya, rutinitas saya sedikit berubah. Mengumpulkan stok pakaian untuk bisa dipadu-padankan saat ke kampus, kerja kelompok, rapat berjam-jam bersama BEM dan/atau UKM adalah hal yang menjadi sangat biasa saya alami. My life changed, I once think. No more playing games, no more rest-taking at noon. Dan hari ini, semua rutinitas itu sudah hampir tidak pernah saya lakukan. Bertambahnya usia menjadikan rutinitas saya hari ini menjadi bertambah (sangat) ekstrim. Olahraga, naik gunung, traveling, adalah agenda saya di tengah-tengah pekerjaan kantor yang membludak. Pada fase ini, cara paradigma saya berubah. I am not changing, I am moving. Saya tetaplah saya, meskipun aktivitas yang saya lakukan berubah ragamnya.

"Lagi sibuk apa nih sekarang?", adalah pertanyaan yang paling umum dilontaran pada percakapan dua orang (atau lebih) apabila sudah lama tidak bertemu. Apapun jawaban dari pertanyaan tersebut pasti akan membentuk opini mereka tentang kita. Rutinitas telah mendeskripsikan kita, secara tidak langsung.

"Lagi sibuk olahraga nih, sama jalan-jalan cari bahan tulisan"

"Ooh, udah gak fokus di musik lagi? I see. Pantesan sekarang hobi banget kemana-mana, mulai diving sampe naik gunung."

Jelas sekali rutinitas telah mengubah rutinitas. Routinity is identity, 
Rutinitas sangat dipengaruhi dari lingkungan dimana seseorang itu berkembang. Tetapi sebagaimanapun rutinitas berubah, bagian yang sulit itu adalah menjadi disiplin strict-to-agenda. Rutinitas yang baik adalah yang terjadwal, bukan hanya yang datang tiba-tiba. Karena rutinitas itu adalah bagian dari bentuk aktualisasi diri, jadi sebaiknya apapun kegiatannya, tetap dijadwalkan seberkala mungkin, agar hidup kita menjadi lebih optimal. 


Read More

Thursday, May 21, 2015

Karena yang kamu lihat, belum tentu apa yang mereka rasa.

Pernah tidak kamu berfikir bahwa orang yang saat ini ada di samping kamu, atau yang ada di depan kamu, yang sedang tertawa lepas, hatinya ternyata sedang berduka? Atau mungkin orang yang kamu temui murung sepanjang hari, ternyata dia sedang diliputi kebahagiaan namun sulit untuk mengekspresikannya?

Saya pernah. Sering lebih tepatnya. Saya sering mengamati keadaan sekitar saya. Ekspresi orang-orang di sekililing saya dan situasi yang sedang terjadi. Saya senang menganalisis apa yang kira-kira sedang terjadi, apa yang kira-kira sedang mereka rasakan. Banyak orang yang begitu ekspresif, tetapi tidak sedikit orang yang mampu menyimpan perasaannya. Bahagia, padahal luka. Cemberut, padahal diam-diam suka. Menarik, kan?

Ekspresi wajah, bagi sebagian orang adalah hal yang penting dan menarik untuk disimak. Mengapa?

Kebanyakan mimik itu menandakan perasaan yang sedang dialami. Hal ini lah yang menjadi indikator seseorang untuk menilai orang lain dan menjadi penentu bagaimana harus bersikap. Nah, yang menarik bagi saya adalah belakangan ini banyak mereka-mereka yang sedang berakting menutupi perasaan mereka. Mengenali apa yang sebenarnya mereka alami itu menjadi poin tersendiri untuk saya. Seperti membaca luka dibalik tawa, bimbang dibalik riang, peduli dibalik angkuh. Inilah yang menuntut saya untuk lebih peka, sehingga pada akhirnya secara refleks saya sering menganalisis manusia. Seperti yang pernah saya sampaikan sebelumnya bahwa saya sangat tertarik dengan manusia. Manusia itu adalah makhluk yang sangat sensitif, makanya analisis lah yang membantu saya menyikapi mereka.

Kenalilah duniamu. :)

Read More

Tuesday, May 12, 2015

24 is just not that hard.


I am officially 24.
24 years old means no more 17 or 18 or even 20. Sebenernya udah hampir sebulan sih ulang tahun nya. Tapi, ya gitu, sampai sekarang saya merasa tidak ada yang istimewa. Nothing special with this new age. Apa emang setiap orang yang bertambah tua itu akan semakin tidak se-cheerful usia 17? Berbeda ketika dulu memasuki 20, atau 22, dimana saya excited sekali menyambut tanggal 14 April. Sempat saya berpikir apakah masa remaja saya stop di angka 22, karena selebihnya  saya harus sudah lebih serius dalam menyikapi hidup.

Usia 24 bagi saya sudah mulai menunjukkan tingkat kesulitannya. Mungkin karena pengaruh akselerasi kehidupan. Iya, percepatan bangku pendidikan dahulu membuat saya harus mengalami aksel kehidupan secara tidak langsung, suka tidak suka. Saya dituntut mengalami percepatan pergaulan dan masalah hidup. Bagaimana tidak? Di usia yang harusnya baru masuk kuliah,  saya justru sudah masuk di problematika karir. Disaat temam sebaya punya peer-group yang seumuran, peer-group saya justru mereka-mereka yang dewasa dan boleh dikatakan cukup matang. Disaat teman sebaya menikmati kehidupan mall di jam kerja setelah kuliah, saya juga tidak kalah sibuknya erkutat di belakang meja mengerjakan report kantor. Haha, life is that unpredictable ya!

Hal ini pun secara tidak langsung membawa pengaruh ke pola pikir. Bagaimana cara saya berpikir, bagaimana saya bertindak. Tidak bisa lagi memperlakukan seacuh dulu. 2015, 24 tahun. Adalah hal yang cukup serius yang harus dijalani. Bukan tentang bagaimana lagi harus bersikap, tapi justru bagaimana memberi sikap yang baik yang bisa dijadikan teladan. Bukan cuma tentang memberi, melainkan tentang menghargai dan benar-benar menerima.

Other's grass may looks greener. Hidup orang lain mungkin lebih indah, tetapi ladang kita adalah anugerah Tuhan. Nah, tugasnya sekarang adalah bagaimana menghasilkan ladang yang berbuah?

Happy 24, anyway!
Read More

Thursday, January 22, 2015

That random chat..

One last question, how do you see me?     /    Why do you ask? /   Simple. I just ask. /     Hmm, you're smart, you have eagerness on books and curious. Some people may found you as the annoying one, you really straight to the point. You're stubborn, you know. That persistent yet tender one. You really keep your heart, like the box with fragiled sticker. You don't wanna get hurted.    /   Come one, no one will let theirselves get hurted, no?    /   Yeah, but you. You are relly into that circumspect. You always get ready for your mask, you don't use it tho. Why?    /    Do I? Do really I? It clearly appeared?      /       You couldn't hide it from me, dear. Come on..     /     Okay, I admit, I, we can't handle most of things that come and happen in our life. So the best way is avoiding. Make it longer, or just simply avoid.


Just avoid. You know, us, human are really the most flexible one. People come and go into our life, just count. How many? One? Two? Hundreds? Or maybe thousands. We meet the same but most different person everyday. So, how we handle it? How? With a beautiful hello, we're become friends. Getting into bestfriends. Don't you ever think that somebody outside there is crying right now looking the fresh-new-bestfriends? Don't ever think it?
And, when those bestfriends, those significant others go out from our life, how? How do we handle? Crying? Longing and longing? 

So, we could just simply prevent it.  
Read More
Written by tvelofas. Powered by Blogger.

© Je Suis Moi ♥♥, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena